Sunday, 13 Jumadil Akhir 1443 / 16 January 2022

Biden Dorong Negara G20 Penghasil Energi Tingkatkan Produksi

Ahad 31 Oct 2021 16:31 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Presiden AS Joe Biden tiba untuk menghadiri KTT Pemimpin G20 di Pusat Kongres La Nuvola di Roma, Italia, 30 Oktober 2021.

Presiden AS Joe Biden tiba untuk menghadiri KTT Pemimpin G20 di Pusat Kongres La Nuvola di Roma, Italia, 30 Oktober 2021.

Foto: EPA-EFE/ETTORE FERRARI
Negara penghasil energi belum cukup meningkatkan produksi untuk penuhi kebutuhan

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendesak negara-negara G20 penghasil utama energi untuk meningkatkan produksinya guna memastikan pemulihan ekonomi global yang lebih kuat. Desakan itu disampaikan Biden sebagai bagian dari upaya luas untuk menekan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya untuk meningkatkan pasokan minyak.

Dengan melonjaknya harga minyak dan gas, beberapa negara penghasil energi seperti Rusia dan Arab Saudi belum cukup meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan. Sebagian besar negara yang merupakan konsumen energi dan khawatir tentang kekurangan energi dan inflasi.

Baca Juga

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan kekhawatiran itu dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Financial Times. Macron mendesak pemerintah negara-negara G20 untuk mendorong "visibilitas dan stabilitas harga" yang lebih baik guna menghindari ancaman yang merusak pemulihan ekonomi global pascapandemi.

Harga gas alam yang meroket, dengan tolok ukur Eropa naik hampir 600 persen tahun ini, didorong oleh persediaan gas yang rendah dan permintaan yang melonjak. Setelah sesi G20, seorang pejabat senior pemerintah Amerika Serikat mengatakan negara-negara konsumen energi mulai membahas upaya yang dapat mereka lakukan jika OPEC dan mitranya tidak berproduksi maksimal.

"Kita harus dapat berbicara secara pribadi dengan para mitra untuk memikirkan cara apa yang kita miliki untuk menangani persoalan ini jika OPEC-plus tidak meningkatkan produksi," kata pejabat itu kepada wartawan di Roma.

Negara pemasok gas alam utama ke Eropa, Rusia, dan perusahaan raksasa energinya Gazprom sedang didesak untuk berupaya lebih maksimal untuk mengurangi harga di pasar. "Ini adalah waktu yang sulit bagi ekonomi global dan yang penting adalah pasokan energi global memenuhi permintaan energi global," kata pejabat senior AS lainnya sebelum pertemuan G20.

"Ada beberapa produsen energi utama yang memiliki kapasitas cadangan, dan kami mendorong mereka untuk menggunakannya untuk memastikan pemulihan (ekonomi) yang lebih kuat dan berkelanjutan di seluruh dunia," katanya.

Pejabat itu mengatakan para pemimpin G20 tidak akan secara khusus menargetkan OPEC, yang mencakup Arab Saudi, atau menetapkan target apa pun untuk produksi energi. Presiden Rusia Vladimir Putin tidak datang ke Roma untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) G20.

Komentar dari Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada awal Oktober memicu ketegangan baru tentang pipa gas bawah laut Nord Stream 2 dari Rusia ke Jerman, yang telah lama ditentang Washington, dan sekarang menunggu izin dari regulator Jerman. Novak mengatakan pemberian izin pipa (Nord Stream 2) dapat membantu mengatasi masalah kekurangan energi di Eropa.

Namun, hal itu justru dianggap sebagai upaya Rusia untuk menekan Eropa agar menyetujui Nord Stream 2. Komentar Novak juga memicu kekhawatiran bahwa Rusia telah gagal meningkatkan produksi gasnya yang saat ini dikirim melalui pipa berbasis darat.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA