Sabtu 30 Oct 2021 18:24 WIB

Ini Isi Pertemuan Presiden Jokowi dan PM Australia

Presiden Jokowi ingin kerja sama pengakuan vaksin dengan Australia.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Teguh Firmansyah
Foto selebaran yang disediakan oleh istana kepresidenan Indonesia menunjukkan Presiden Indonesia Joko Widodo (kanan) dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison (kiri) selama pertemuan bilateral mereka di sela-sela KTT G20 di Roma, 30 Oktober 2021.
Foto: EPA-EFE/LAILY RACHEV/ISTANA PRESIDEN INDONESI
Foto selebaran yang disediakan oleh istana kepresidenan Indonesia menunjukkan Presiden Indonesia Joko Widodo (kanan) dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison (kiri) selama pertemuan bilateral mereka di sela-sela KTT G20 di Roma, 30 Oktober 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengawali agenda kerjanya di Roma, Italia, pada Sabtu (30/10) dengan mengadakan pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison. Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Splendide Royal tersebut, kedua pemimpin membahas tiga hal utama, mulai dari vaksinasi hingga isu perubahan iklim.

"Untuk hubungan bilateral saya senang melihat kemajuan yang terus terjadi. Pertama, saya sampaikan apresiasi atas dukungan vaksin Australia untuk Indonesia, 1,2 juta dosis vaksin telah tiba minggu lalu dan kami sambut baik rencana kedatangan 10,5 juta dosis vaksin," ujar Presiden, dikutip dari siaran resmi Istana.

Baca Juga

Menurut Presiden, saat ini kondisi Covid-19 terus menunjukan perbaikan. Positivity rate di Indonesia sudah mencapai di bawah 1 persen dan lebih 185 juta vaksin telah disuntikkan. "Tidak kalah pentingnya protokol kesehatan masih terus kita jaga," tambahnya.

Tren penanganan Covid-19 yang telah membaik tersebut membuka ruang bagi kedua negara untuk mulai memikirkan pemulihan ekonomi, termasuk di sektor pariwisata. Karena itu, Presiden mengusulkan pembentukan vaccinated travel lane (VTL) Indonesia dan Australia dan kerja sama saling pengakuan sertifikat vaksin.

"Saya paham dua Menteri Luar Negeri sudah mulai mengomunikasikan kemungkinan kerja sama itu. Mudah-mudahan VTL dan pengakuan sertifikat vaksin dapat segera diselesaikan. Saya yakin ini akan mendorong percepatan pemulihan ekonomi, tentu dengan aman," jelasnya.

Ketiga, Presiden Jokowi ingin agar Indonesia-Australia dapat terus melakukan kerja sama pembangunan ekonomi hijau dan transisi energi. Menurut Jokowi, isu teknologi dengan harga terjangkau dan investasi memegang peran penting bagi keberhasilan transformasi ekonomi.

"Oleh karena itu, saya sambut baik Joint Statement on Cooperation on the Green Economy and Energy Transition. Kerja sama yang termuat dalam joint statement ini sejalan dengan semangat presidensi G20 Indonesia di tahun 2022," ungkapnya.

Di masa presidensi Indonesia, Presiden ingin mendorong sejumlah kerja sama konkret di beberapa sektor utama yakni digital, transisi energi, dan inklusi keuangan. Di sektor digital, Jokowi ingin memastikan transisi digital yang inklusif bagi pertumbuhan dan pembangunan.

Sedangkan di sektor transisi energi, G20 harus dapat memastikan ketersediaan teknologi rendah karbon dengan harga terjangkau sehingga transisi energi dapat dilakukan oleh semua negara. Sementara di sektor inklusi keuangan, secara khusus Presiden menekankan soal UMKM dan perempuan.

"Saya harap dukungan kuat Australia bagi ketiga usulan Indonesia tersebut. Saya juga berharap untuk dapat menyambut Yang Mulia secara pribadi tahun depan saat KTT kami di Bali, tanggal 30-31 Oktober 2022," ujarnya.

Dalam pertemuan bilateral ini, Presiden didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement