Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Dua Penyebab Obesitas: Minuman Manis dan Makanan Olahan

Kamis 28 Oct 2021 10:15 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti

Obesitas (Ilustrasi)

Obesitas (Ilustrasi)

Foto: Health
Orang yang obesitas sering meremehkan jumlah kalori yang mereka konsumsi setiap hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obesitas (indeks massa tubuh di atas 30) merupakan epidemi di Amerika Serikat (AS). Diperkirakan lebih dari 42 persen warga setempat mengalami obesitas. 

Ini bukan sekadar masalah estetika, tapi juga soal kesehatan. Obesitas meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk jantung, kanker, diabetes, dan demensia.

Tidak ingin masuk dalam statistik tersebut? Maka sangat penting untuk menghentikan beberapa kebiasaan jika ingin menghindari obesitas. Para ahli mengatakan minuman manis dan makanan olahan adalah dua penyebab utama obesitas. 

Jauhi mereka dari diet maka bisa memangkas risiko menjadi gemuk. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) AS minuman yang dimaniskan dengan gula buatan adalah soda, minuman rasa buah, minuman energi, air manis, kopi, dan teh dengan tambahan gula.

Satu soda sehari berdasarkan ukurannya (237 mililiter hingga 591 mililiter), dapat menumpuk 270-690 kalori sehari. "Konsumsi minuman manis dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas yang meningkat 1,6 kali lipat, untuk setiap porsi minuman manis yang dikonsumsi setiap hari,” tulis dr Caroline M Apovian dalam American Journal of Managed Care.

Studi telah menemukan bahwa minum minuman manis secara teratur dikaitkan dengan perilaku tidak sehat lainnya, banyak di antaranya dapat meningkatkan risiko obesitas lebih jauh. "Orang dewasa dan remaja yang merokok, kurang tidur, tidak banyak berolahraga, sering makan makanan cepat saji, dan tidak makan buah secara teratur, lebih cenderung menjadi konsumen SSBs (sugar-sweetened beverages)," kata CDC.

"Selain itu, remaja yang sering mengonsumsi SSBs juga memiliki lebih banyak waktu menatap layar, misalnya lebih banyak waktu menatap televisi, ponsel, komputer, dan gim video," kata CDC lebih lanjut.

“Makanan olahan (makanan rendah serat serta meningkatkan lemak, gula, garam, dan kalori) adalah penyumbang utama obesitas,” tulis Apovian.

"Konsumsi makanan olahan ini telah menyebabkan peningkatan 205 kalori dalam asupan kalori harian rata-rata individu sejak 1960-an," ujar Apovian.

Makanan olahan berkontribusi terhadap obesitas karena tidak mengenyangkan. Karbohidrat sederhana seperti keripik dan kue meningkatkan gula darah yang dapat menyebabkan insulin melonjak dan mogok. Ini menjadi penyebab sering timbulnya rasa lapar dan mendorong makan berlebihan serta menambah berat badan.

Para ahli mengatakan orang yang obesitas juga sering meremehkan jumlah kalori yang mereka konsumsi setiap hari, yang jumlah kalorinya sering kali ratusan. Faktanya, sebuah penelitian yang diterbitkan di BMJ menemukan bahwa seperempat orang meremehkan asupan harian mereka, hingga lebih dari 500 kalori.

Kedengarannya sangat banyak, dan jumlah itu memang banyak. Setidaknya 500 kalori adalah 25 persen dari total kalori harian yang direkomendasikan bagi kebanyakan orang. Namun itu semua akan terlalu berlebihan jika Anda meminum lebih banyak kalori tanpa disadari. Hitung-hitungannya, jika Anda mengonsumsi 200 kalori ekstra sehari berarti total sekitar 6.000 kalori ekstra sebulan, dan jumlah itu cukup untuk menambah berat badan hampir satu kilogram.

Lalu apa yang harus dilakukan? Para ahli menyarankan untuk menjauhi minuman manis dan makanan olahan, gantilah dengan kalori berkualitas tinggi. Contohnya adalah diet Mediterania, yang mengutamakan buah-buahan, sayuran, ikan, dan minyak zaitun, serta membatasi daging merah, daging olahan, dan makanan olahan. Untuk camilan, dibandingkan permen atau keripik kentang, cobalah memakan kacang, buah, atau sayuran.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA