Rabu 27 Oct 2021 18:56 WIB

'Guru Harus Mampu Bimbing Siswa untuk Raih Mimpinya’

Perubahan membangun pendidikan di Papua dimulai dari membentuk karakter gurunya.

Rep: My38/ Red: Fernan Rahadi
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal (kedua dari kanan), dalam Workshop Penciptaan Ekosistem Sekolah Menyenangkan bagi Sekolah Dasar di Kabupaten Supiori di Yogyakarta, Selasa (26/10).
Foto: My38
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal (kedua dari kanan), dalam Workshop Penciptaan Ekosistem Sekolah Menyenangkan bagi Sekolah Dasar di Kabupaten Supiori di Yogyakarta, Selasa (26/10).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Sistem pendidikan di Indonesia bagian Barat secara umum lebih baik dari Indonesia bagian Timur, seperti Papua. Pendidikan di Papua mengalami ketertinggalan baik dalam pembelajaran siswa maupun infastruktur digital.

Hal ini dikarenakan kondisi ekonomi, budaya, dan aksesibilitas geografis menjadi batasan bagi anak di wilayah Timur Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dasar sekalipun. Oleh karena itu, melalui pelatihan Guru SD Papua yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) diharapkan dapat mengejar ketertinggalan pendidikan yang berada di Indonesia bagian Timur.

"Saya ingin pendidikan di Papua mempunyai sistem pendidikan yang berbeda," ujar pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, dalam Workshop Penciptaan Ekosistem Sekolah Menyenangkan bagi Sekolah Dasar di Kabupaten Supiori di Yogyakarta, Selasa (26/10).

Melalui GSM, Rizal akan membuat ruang, sehingga guru SD dari Papua memiliki keyakinan untuk berkembang lebih maju dari guru-guru yang berada di luar Papua. Lebih lanjut ia mengatakan perubahan untuk membangun pendidikan di Papua dimulai dari membentuk karakter seorang guru yang mampu membimbing siswa untuk meraih mimpinya.

"Berdasarkan lingkungan alamnya, analogi anak Papua itu fisik dan seni. Jadi tidak boleh kita samakan dengan anak yang dari Jawa ataupun luar Papua," ujar Rizal.

Rizal percaya anak-anak di Papua akan tumbuh semakin pintar, sehingga seorang guru tidak diperbolehkan mengajar siswa dengan metode pembelajaran di masa lalu. Karena untuk ke depannya akan tumbuh lapangan pekerjaan baru dengan kompetensi yang berbeda.

"Hanya anak yang bisa memimpin dirinya sendiri yang mampu bersaing di era baru kelak," sambungnya.

Ia juga mengharapkan agar budaya pendidikan di Indonesia lebih mampu untuk membangun keutuhan manusia hingga dapat membongkar budaya lama seperti feodalisme. Sehingga setiap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.

Sekolah, kata Rizal, harus membangun budaya anak yang memiliki kreativitas tinggi, ingin tahu, selalu bertanya, bereksplorasi, dan berani berimajinasi untuk tidak tidak takut gagal. Dari budaya yang ditanamkan tersebut diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang memiliki kreativitas serta punya daya juang tinggi.

Orva, peserta pelatihan GSM yang merupakan perwakilan dari guru SD di Kapubaten Supiori Papua, mengaku mendapatkan manfaat dari pelatihan tersebut. "Setelah pemaparan materi yang diberikan oleh pak Rizal dapat memotivasi saya untuk terus membangun pendidikan di Papua. Saya berharap dengan adanya pelatihan GSM ini dapat memotivasi pendidik lain," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement