Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Dokter Jelaskan Alasan Terjadinya Sembelit

Rabu 27 Oct 2021 16:20 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti

Sembelit (ilustrasi).

Sembelit (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com.
Ahli gastroenterologi menyebut frekuensi buang air besar tidak terlalu penting.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sembelit adalah salah satu gangguan pencernaan yang sering dikeluhkan. Namun sebelum Anda khawatir tentang sembelit, ada yang perlu diluruskan terlebih dahulu ihwal frekuensi buang air besar (BAB).

Selama ini, BAB didefinisikan sebagai hal normal ketika BAB sebanyak tiga kali sehari dan yang terjarang sebanyak tiga kali dalam sepekan. Namun menurut ahli gastroenterologi, dr Sameer Islam, frekuensi itu tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana kondisi Anda.

Misalnya, ketika seseorang BAB sekali sehari namun merasa tidak puas, itu artinya dia sedang mengalami konstipasi atau sembelit. Di sisi lain, jika seseorang hanya BAB sekali sepekan namun merasa nyaman dan bahagia, itu menandakan tidak ada masalah sembelit.

Lalu apa penyebab sembelit yang paling umum bagi orang biasa dan sehat? Pertama, pola makan. Dr Sameer mengatakan, pola makan di AS sangat rendah serat, sayuran, buah-buahan, dan nutrisi penting, sehingga membuat banyak orang sulit untuk buang air besar. Semua faktor ini berkontribusi terhadap sembelit tetapi mudah diobati.

Alasan kedua untuk orang yang sering sembelit adalah otot rektum yang terlalu kencang. Untuk individu-individu ini, mereka benar-benar anally retentive. Artinya tidak peduli sebesar apa usaha Anda untuk mengejan, tetap saja fesesnya susah keluar. 

"Satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah dengan memperbaiki otot-otot rektum," kata dr Sameer seperti dikutip dari Men's Health, Rabu (27/10).

Ada juga beberapa orang yang lebih rentan terhadap sembelit dan itu umum terjadi. Apakah itu dipengaruhi genetik, lingkungan, atau perubahan spesifik dalam struktur genetik.

Faktor lain yang bisa memicu sembelit adah diet keto, di mana mereka lebih banyak mengonsumsi lemak dan protein serta rendah karbohidrat. Ini membuat tubuh mudah sembelit, karena tubuh kekurangan serat.

Apakah ada obat-obatan untuk memperburuk sembelit? Tentu ada, seperti pil tekanan darah, obat pereda nyeri (khususnya opiat), depresi, dan obat antikejang dapat memperburuk konstipasi.

Anda harus berkonsultasi ke dokter apabila sembelit tidak kunjung membaik dan terdapat darah pada feses, darah tidak pernah normal, dan jika Anda baru mengalami perubahan kebiasaan buang air besar setelah usia 45 tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA