Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Industri Bambu Sleman Perlu Dikembangkan

Rabu 27 Oct 2021 14:38 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Bilal Ramadhan

Pekerja membuat kerajinan bambu di Rosse Bambu, Margoagung, Sleman, Yogyakarta.

Pekerja membuat kerajinan bambu di Rosse Bambu, Margoagung, Sleman, Yogyakarta.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Sleman cukup banyak menyinergikan bambu dengan agenda-agenda seni dan budaya.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Desain berkelanjutan semakin tertanam di perdagangan internasional. Hal ini turut mendorong pelaku industri negara-negara Asia saling berlomba memunculkan kreasi-kreasi baru produk, mengeksplorasi sumber daya terbarukan.

Langkah tersebut penting untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi, terutama dari negara-negara benua Amerika dan Eropa. Maka itu, Bupati Sleman, Kustini Purnomo menekankan, kita perlu berbenah diri untuk satukan persepsi.

Di Sleman, kata Kustini, kemauan satukan langkah salah satunya perlu didorong dalam pengembangan industri bambu yang ada di Sleman mulai hulu sampai hilir. Mampu mendukung tahap kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi.

Pada 2013, telah diterbitkan SK Bupati 306/Kep.KDH/A/2013 yang menetapkan bambu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Unggulan. Selain itu, 4 Oktober 2021, kerajinan bambu ditetapkan produk unggulan Sleman melalui SK Bupati 59.1/Kep/KDH/A/2021.

Maka itu, ia berharap seluruh pemangku kepentingan yang ada mampu membangun komitmen bersama dan bersinergi mengembangkan industri bambu yang ada di Sleman. Meliputi masyarakat, perguruan tinggi maupun pemerintah sendiri.

"Terlebih, tanaman bambu telah cukup lama menjadi komoditas industri di Kabupaten Sleman," kata Kustini dalam webinar Sinergi Pentahelix Dalam Pengembangan Industri Bambu.

Webinar sendiri merupakan sinergi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kustini turut memberi apresiasi Dirjen Dikti yang mendorong kolaborasi akademisi dan dunia usaha dan industri.

Sehingga, dapat tumbuh optimisme menemukan solusi yang selama ini kerap menjadi kendala pengembangan industri bambu di Sleman. Padahal, di sentra-sentra bambu yang ada di Sleman telah lahir beragam produk kerajinan berbahan dasar bambu.

"Baik diproduksi dalam skala mikro maupun dalam skala usaha kecil-menengah," ujar Kustini.

Sebelum pandemi, Sleman cukup banyak menyinergikan bambu dengan agenda-agenda seni dan budaya. Salah satunya memadukan Festival Bambu Sleman dengan festival musik jazz legendaris Yogyakarta, Ngayogjazz 2019, di Padukuhan Kwagon, Sleman.

Ketua Asosiasi Sentra Bambu Sleman, Eko Wiharto menuturkan, bambu memiliki beragam fungsi. Mulai dari tunasnya yang bisa digunakan untuk membuat sayur sampai batangnya yang dapat dipakai untuk perabotan, bahkan bahan konstruksi.

Maka itu, ia menekankan, Asosiasi Sentra Bambu Sleman harus mampu tidak cuma membuat, tapi bisa melakukan budidaya. Sehingga, distribusi bambu memang tidak bisa sekadar berhenti di hulu, namun harus terus dijalankan sampai ke hilir.

"Usaha ini diharapkan mampu menggugah geliat agar bambu bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih," kata Eko.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA