Wednesday, 26 Rabiul Akhir 1443 / 01 December 2021

Wednesday, 26 Rabiul Akhir 1443 / 01 December 2021

Puluhan Tahun Langganan Puso, 300 Hektare Sawah Bisa Panen

Rabu 27 Oct 2021 14:30 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Bilal Ramadhan

Lahan pertanian siap panen (ilustrasi)

Lahan pertanian siap panen (ilustrasi)

Foto: Kementan
Areal persawahan di dua desa selama puluhan tahun selalu mengalami kekeringan.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Ratusan hektare sawah di dua desa di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, kini bisa melakukan panen pada musim tanam gadu. Padahal, areal tersebut sudah lebih dari 26 tahun kerap mengalami gagal panen (puso) akibat kekeringan.

Adapun kedua desa itu, yakni Desa Singakerta dan Desa Kapringan. Di kedua desa tersebut, ada 300 hektare sawah yang kini sudah panen. "Di Desa Singakerta ada 136 hektare dan di Desa Kapringan ada 164 hektare," kata Camat Krangkeng, Ali Alamudin.

Ali menjelaskan, areal persawahan di dua desa tersebut selama puluhan tahun selalu mengalami kekeringan. Hal itu akibat minimnya pasokan air di saluran irigasi.

Melihat kondisi itu, terang Ali, Bupati Indramayu, Nina Agustina, membuat terobosan agar seluruh saluran irigasi terairi, termasuk di saluran irigasi IV. Untuk itu, dilakukan pembenahan pada irigasi Sindupraja saluran SR 6-JW7, yang menjadi andalan petani di dua desa tersebut.

Dengan adanya pasokan air di saluran irigasi, lanjut Ali, areal sawah di Desa Kapringan dan Desa Singakerta yang semula kering, menjadi kembali terairi. Para petani pun bisa menikmati panen pada musim gadu kali ini.

Ali menyebutkan, ada empat kelompok tani di dua desa tersebut. Yakni, kelompok tani Sri Lestari II dan Sri Lestari III Desa Singakerta serta kelompok tani Panggungan dan Panggungan II dari Desa Kapringan.

Selain pengairan yang membaik di kedua desa itu, uji coba penggunaan drone di areal persawahan sebelumnya juga dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan Krangkeng bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat. Lokasinya di areal persawahan Desa Srengseng.

Drone yang digunakan untuk menyemprot hama itu tidak seperti drone yang biasa digunakan oleh fotografer. Namun, drone tersebut berukuran besar, yang mampu mengangkut cairan untuk disemprotkan.

Ali mengatakan, penggunaan drone itu sangat tepat untuk menyemprot sawah yang terserang hama. Dia menyatakan, penggunaan drone lebih menghemat waktu sehingga bisa mengurangi beban petani. "Waktu penyemprotan bisa lebih cepat dan lebih merata," kata Ali.

Melalui inovasi di bidang teknologi itu, Ali berharap agar pertanian di wilayahnya bisa lebih berkembang. Hal itu akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan para petani.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA