Rabu 27 Oct 2021 11:26 WIB

Dosen UMM Merebut Tafsir Pancasila

Sebagai warga negara Indonesia diharuskan bisa menafsirkan Pancasila dengan baik

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Gita Amanda
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurbani Yusuf menyusun buku dengan judul Merebut Tafsir Pancasila.
Foto: Humas UMM
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurbani Yusuf menyusun buku dengan judul Merebut Tafsir Pancasila.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Ada berbagai penafsiran terkait Pancasila, baik itu tafsir dari golongan abangan dan organisasi masyarakat (Ormas). Hal tersebut melatarbelakangi dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurbani Yusuf, menyusun buku dengan judul Merebut Tafsir Pancasila.

Nurbani, sapaan akrabnya menjelaskan, buku ini secara umum membahas terkait Pancasila ibarat rumah kosong yang akan ikut berubah sesuai dengan penghuni yang mengisi. Begitu pula dengan warna Pancasila, tergantung bagaimana orang menafsirkan. "Sebuah tafsir pancasila sukar untuk disamakan karena setiap individu memilki pandangan tersendiri terkait Pancasila," katanya.

Baca Juga

Warna Pancasila akan menjadi dasar negara yang harus ditegakkan jika ditafsirkan oleh orang abangan. Namun akan menjadi sangat agamis ketika ditafsirkan oleh ulama. Oleh sebab itu, warna Pancasila tergantung dari orang yang menafsirkan.

Ia juga menyayangkan masih banyaknya oknum yang menyelewengkan Pancasila. Terlebih lagi beberapa dari kalangan ulama yang justru menentang Pancasila dan menyebutnya sebagai ‘taghut’.

Kenyataanya, Pancasila sendiri dirancang dan disusun dari golongan ulama, salah satunya Ki Bagus Hadi Kusuma. Dari sejarah tersebut, para ulama dan tokoh lainnya merancang Pancasila sebagai landasan bernegara dan bermasyarakat tanpa mendiskreditkan golongan tertentu.

Sebagai warga negara Indonesia diharuskan untuk bisa menafsirkan Pancasila dengan baik. Hal itu bertujuan untuk mempermudah orang-orang sekitar dalam memahami dan hidup sesuai dengan insitasi pendidikan. Begitupun agar dasar negara ini tidak diselewengkan dan diperdebatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini berpesan agar tidak mempertentangkan Pancasila dan agama. Menurutnya, hal itu akan menjadi hal yang sia-sia karena hakikatnya Pancasila sendiri disusun oleh kalangan ulama. Adapun buku yang ia tulis itu berusaha menyelaraskan antara Pancasila dan syariat Islam.

“Dalam buku ini saya berusaha menyelaraskan nilai-nilai pancasila dengan syariat Islam, yang menjadi landasan dalam bernegara di Indonesia ini,” ungkap dia dalam pesan resmi yang diterima Republika, Selasa (26/10).

Terakhir, Nurbani berharap melalui buku ini ia bisa menghidupkan kembali pemikiran Pancasila. Mendorong masyarakat untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dan tidak terlena dengan kejadian dan isu politik. Hal ini terutama mengembalikan nilai-nilai Pancasila di masyarakat yang bersifat filosofis.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement