Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Pakistan dan China Desak Dunia Kirim Bantuan ke Afghanistan

Rabu 27 Oct 2021 00:46 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih

Laila berpose untuk foto saat dia bermain di lingkungan miskin tempat ratusan pengungsi internal dari bagian timur negara itu telah tinggal selama bertahun-tahun, di Kabul, Afghanistan, Senin, 27 September 2021.

Laila berpose untuk foto saat dia bermain di lingkungan miskin tempat ratusan pengungsi internal dari bagian timur negara itu telah tinggal selama bertahun-tahun, di Kabul, Afghanistan, Senin, 27 September 2021.

Foto: AP/Felipe Dana
Warga Afghanistan kekurangan makanan dan obat-obatan untuk menghadapi musim dingin.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL – Para pemimpin Pakistan dan China pada Selasa (26/10) mendesak masyarakat internasional untuk segera mengirim bantuan kemanusiaan dan ekonomi ke Afghanistan. Saat ini warga Afghanistan kekurangan makanan dan obat-obatan untuk menghadapi musim dingin.

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan kondisi Afghanistan tengah berada di ambang krisis kemanusiaan dengan lebih dari separuh warga menghadapi kekurangan pangan yang akut. Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Presiden China Xi Jinping membahas Afghanistan melalui telepon.

Baca Juga

Mereka mengatakan warga Afghanistan membutuhkan bantuan internasional demi meringankan penderitaan mereka, mencegah ketidakstabilan, dan membangun kembali negara setelah Amerika Serikat mundur dan Taliban berkuasa.

Perkembangan terakhir terjadi sehari setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan perwakilan Taliban di Qatar untuk membahas berbagai masalah. Pakistan dan China adalah sekutu lama dan bersama dengan negara lain, mereka telah mengirim bantuan kemanusiaan ke Kabul selama dua bulan terakhir.

Pakistan ingin masyarakat dunia mencairkan aset Afghanistan untuk memungkinkan Kabul menggunakan uangnya sendiri untuk mencegah krisis yang semakin dalam. Saat ini, pemerintah Taliban tidak memiliki akses ke cadangan bank sentral Afghanistan senilai 9 miliar dolar Amerika yang sebagian besar dipegang oleh Federal Reserve New York.

Lebih dari 22 juta warga Afghanistan akan menderita kerawanan pangan musim dingin ini karena kekeringan yang didorong oleh perubahan iklim. “Musim dingin ini, jutaan warga Afghanistan akan dipaksa untuk memilih antara migrasi dan kelaparan kecuali kita dapat meningkatkan bantuan,” kata Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley.

Dilansir Gulf Today, Selasa (26/10), krisis sudah dalam skala yang lebih besar dibandingkan yang dihadapi Yaman atau Suriah. Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh WFP, satu dari dua warga Afghanistan menghadapi krisis Fase 3 atau Fase 4, yaitu darurat kekurangan pangan. Fase 4 adalah satu langkah di bawah kelaparan dan para pejabat mengatakan Afghanistan menghadapi musim dingin terburuk dalam satu dekade.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA