Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Inggris Akui Sindrom Guillain-Barré Sebagai Efek Vaksin AZ

Selasa 26 Oct 2021 00:20 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksin Covid-19 AstraZeneca. MHRA, regulator obat-obatan Inggris, memasukkan sindrom Guillain-Barré sebagai efek samping dari vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Vaksin Covid-19 AstraZeneca. MHRA, regulator obat-obatan Inggris, memasukkan sindrom Guillain-Barré sebagai efek samping dari vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Foto: AP/Virginia Mayo
Sindrom Guillain-Barre juga diakui EMA sebagai efek vaksin Covid-19 AstraZeneca (AZ).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Regulator obat-obatan Inggris (MHRA) menambahkan sindrom Guillain-Barré sebagai efek samping dari vaksin Covid-19 AstraZeneca. Sindrom Guillain-Barré termasuk gejala cukup langka yang dialami penerima suntikan vaksin temuan University of Oxford itu.

Menurut NHS, sindrom Guillain-Barré memengaruhi saraf, terutama di kaki, tanganm dan anggota badan. "Ini adalah gangguan autoimun yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang dan dapat menyebabkan masalah seperti mati rasa, kelemahan dan nyeri," tulis laporan The Sun, Senin (25/10).

Pada kebanyakan orang, penyakit ini dapat diobati dan akan sembuh total. Akan tetapi, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, sindrom tersebur dapat mengancam jiwa dan beberapa pasien mengalami masalah jangka panjang.

Di sisi lain, ahli telah meyakinkan bahwa manfaat suntikan vaksin tentu jauh lebih besar daripada bahayanya. Vaksin Covid-19 dinilai telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.

Keputusan MHRA untuk menambahkan sindrom ini terjadi menyusul kebijakan Badan Obat Eropa yang juga telah mencantumkan efek samping tersebut pada bulan September lalu. Sebelumnya, terdapat 833 kasus gangguan yang dilaporkan secara global pada 31 Juli. Itu setelah dilakukan pemberian vaksin AstraZeneca sebanyak 600 juta orang.

Pada bulan Mei, daftar laporan sindrom langka itu menurun dari masalah yang paling sering dilaporkan. Laporan itu disusun oleh Profesor Tim Spector, seorang ahli epidemiologi di King's College London (KCL).

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA