Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Harga Batu Bara Meroket, PTBA Raih Laba Rp 4,8 Triliun

Senin 25 Oct 2021 15:45 WIB

Rep: intan pratiwi/ Red: Hiru Muhammad

Alat-alat berat dioperasikan di pertambangan Bukit Asam yang merupakan salah satu area tambang terbuka (open-pit mining) batu bara terbesar PT Bukit Asam Tbk di Tanjung Enim, Lawang Kidul, Muara Enim, Sumatra Selatan, Sabtu (5/11).

Alat-alat berat dioperasikan di pertambangan Bukit Asam yang merupakan salah satu area tambang terbuka (open-pit mining) batu bara terbesar PT Bukit Asam Tbk di Tanjung Enim, Lawang Kidul, Muara Enim, Sumatra Selatan, Sabtu (5/11).

Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Pencapaian laba bersih tersebut didukung dengan pendapatan sebesar Rp 19,4 triliun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membungkus kenaikan laba sebesar 176 persen pada kuartal ketiga tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kuartal ketiga tahun ini perusahaan membungkus laba hingga Rp 4,8 triliun.

Direktur Utama PTBA Suryo Hadi Eko menjelaskan Pencapaian laba bersih tersebut didukung dengan pendapatan sebesar Rp 19,4 triliun, meningkat pesat 51 persen dibanding capaian di periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp 12,8 triliun.

"Gak bisa dipungkuri, kenaikan laba karena kenaikan harga HBA. Tapi di luar itu, program efisiensi yang dilakukan PTBA untuk mengendalikan biaya. Lalu peningkatan volume dan penjualan," ujar Eko dalam konferensi pers, Senin (25/10).

Eko juga menjelaskan Di sisi lain PTBA tetap melakukan upaya efisiensi secara berkelanjutan disetiap lini kegiatan, sebagai langkah antisipasi menghadapi volatilitas harga batu bara. Sehingga, apabila terjadi penurunan harga tidak berdampak signifikan pada kinerja perseroan dan tetap dapat membukukan kinerja positif.

Direktur Keuangan PTBA Farida Thamrin juga menjabarkan selain kenaikan harga dan kenaikan produksi. Kinerja keuangan perusahaan di tahun ini memang tertopang dari hasil efisiensi yang dilakukan perusahaan.

Ia menjelaskan efisiensi ini tercermin dari angka beban biaya produksi. Farida mencatat biaya produksi memang naik 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan biaya produksi ini karena ada kenaikan volume produksi."Terefleksi cash cost kita dibandingkan tahun lalu naik 6 persen saja. Kita jaga cost lebih efisien dan produksi dan harga sangat mendukung," ujar Farida.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA