Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Israel Bangun 1.300 Permukiman Yahudi di Tepi Barat

Senin 25 Oct 2021 06:42 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Israel Bangun 1.300 Permukiman Yahudi di Tepi Barat. Pihak berwenang Israel, mengevakuasi pemukim dan memindahkan rumah dengan derek karena mereka diduga dibangun secara ilegal di pos terdepan Beit Dror di selatan kota Hebron di Tepi Barat pada 27 Juli 2021.

Israel Bangun 1.300 Permukiman Yahudi di Tepi Barat. Pihak berwenang Israel, mengevakuasi pemukim dan memindahkan rumah dengan derek karena mereka diduga dibangun secara ilegal di pos terdepan Beit Dror di selatan kota Hebron di Tepi Barat pada 27 Juli 2021.

Foto: EPA/ABED AL HASHLAMOUN
Tender untuk 1.355 rumah di Yudea dan Samaria telah diterbitkan.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Israel berencana membangun lebih banyak permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Pembangunan pada Ahad (24/10).

“Tender untuk 1.355 rumah di Yudea dan Samaria telah diterbitkan,” kata pernyataan Kementerian Pembangunan, dilansir Al Arabiya, Senin (25/10). 

Baca Juga

Tender tersebut muncul setelah Israel memberikan persetujuan bagi 4.000 warga Palestina untuk mendaftar sebagai penduduk Tepi Barat pada pekan lalu. Ini merupakan langkah pertama yang diambil oleh Israel selama 12 tahun menguasai wilayah pendudukan. Rumah-rumah Yahudi yang baru akan dibangun di tujuh pemukiman.

Permukiman baru tersebut menambah lebih dari 2.000 tempat tinggal di Tepi Barat yang diduduki. Sekitar 475 ribu orang Yahudi Israel tinggal di permukiman di Tepi Barat yang diduduki. Menurut hukum internasional, permukiman tersebut dianggap ilegal.

Israel telah menduduki Tepi Barat sejak Perang Enam Hari pada 1967. Sejak saat itu, Israel menjalankan kendali administratif secara penuh di sebagian besar wilayah. Tercatat lebih dari dua juta orang Palestina tinggal di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menentang pembentukan negara Palestina dan telah mengesampingkan pembicaraan damai secara formal dengan Otoritas Palestina. Bennett mengatakan, dia lebih memilih fokus pada perbaikan ekonomi ketimbang berdialog dengan Palestina. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA