Senin 25 Oct 2021 06:12 WIB

Meraih Kebahagiaan dengan Menyimak Tafsir Surat Fushilat

Istiqamah menentukan keimanan kita, istiqamah menentukan keislaman kita.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah
Meraih Kebahagiaan dengan Menyimak Tafsir Surat Fushilat
Foto: republika
Meraih Kebahagiaan dengan Menyimak Tafsir Surat Fushilat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran merupakan penyejuk bagi umat Islam, baik untuk fisik maupun batin. Sejumlah ayat-ayat penerang yang juga menghadirkan kebahagiaan pun termaktub di dalamnya.

Dalam kajian virtual Taklim Ba’da Subuh oleh KH Didin Hafiduddin mengenai Tafsir Surat Fushilat ayat 30-32, dibahas mengenai cara meraih kebahagiaan yang hakiki dengan iman dan istiqamah. Surat Fushilat ayat 30-32, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,”.

Baca Juga

Dijelaskan bahwa, ayat-ayat ini menjelaskan tentang betapa pentingnya iman dan konsistensi (istiqamah) dalam beribadah dan menjalankan kehidupan beragama untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki. Istiqamah menentukan keimanan kita, istiqamah menentukan keislaman kita.

Insya Allah kehidupan kita akan diselamatkan oleh Allah SWT, insya Allah kita akan mencapai kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan kita. Istiqamah di sini tentu dalam segala bidang, dalam ibadah, dalam muamalah, bahkan dalam cara berfikir. Jika seorang Muslim berifikir secara materialis, maka kehidupannya akan diwarnai dengan hal-hal materialis begitu.

Jika seorang muslim berfikir secara sekularis, maka ia akan menjalani kehidupannya secara sekuler begitu. Kita paham bahwa dalam Islam tidak ada pemisahan antara dunia dan akhirat.

Menjalani kehidupan ekonomi sebaiknya berbasis pada ajaran-ajaran islam, berprinsip pada ekonomi syariah. Kalaupun ada pemisahan, biasanya hal itu hanya pembagian tugas biasa. Sekali lagi, itu bukan pemisahan. Kita juga paham bahwa semua ilmu itu berasal dari Allah SWT.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement