Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

24 Titik Panas Terdeteksi di Nusa Tenggara Timur

Sabtu 23 Oct 2021 03:38 WIB

Red: Nora Azizah

24 titik panas terdeteksi di NTT dengan tingkat kepercayaan 80 persen.

24 titik panas terdeteksi di NTT dengan tingkat kepercayaan 80 persen.

Foto: AP/Nathan Howard/FR171771 AP
24 titik panas terdeteksi di NTT dengan tingkat kepercayaan 80 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan 24 titik panas (hotspot) terdeteksi kembali muncul di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur, Jumat (22/10). "Kemunculan titik panas ini masih terdeteksi hingga update terakhir pada Jumat (22/10) pukul 19.00 WITA hari ini dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen," kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang BMKG Agung Sudiono Abadi dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat.

Ia menjelaskan, sebaran titik panas lebih banyak muncul di wilayah Kabupaten Kupang, yaitu 12 titik panas yang tersebar di Kecamatan Amfoang Tengah 10 titik, serta Amfoang Selatan dan Amfoang Timur masing-masing satu titik. Selanjutnya diikuti Kabupaten Alor tujuh titik tersebar di Alor Selatan satu titik dan enam titik di Alor Timur, Kabupaten Lembata tiga titik di Kecamatan Atadei, serta di Larantuka Kabupaten Flores Timur dan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan masing-masing satu titik. 

Baca Juga

Agung menjelaskan, sebaran titik panas tersebut terdeteksi berdasarkan hasil pantauan Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP dan NOAA20 oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan 1 km persegi dan pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2-4 kali per hari. Citra satelit tersebut hanya menilai anomali reflekstifitas dan suhu sekitar yang diinterpretasikan sebagai titik panas (hotspot). 

"Penyebab adanya anomali tersebut tidak dapat kami pastikan," katanya.

Agung menambahkan, namun pada wilayah yang tertutup awan maka titik panas tidak dapat terdeteksi. Kondisi kekeringan dan hembusan angin yg kencang juga menjadi penyebab tidak langsung dalam sebaran suatu titik panas tersebut.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA