Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Bersiap Hadapi Gelombang Ketiga Covid-19 di Tanah Air

Jumat 22 Oct 2021 19:28 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas gabungan mengimbau kendaraan berplat nomor ganjil untuk berputar arah saat pengendalian mobilitas ganjil genap untuk pengunjung TMII di Jalan Pintu 1 TMII, Jakarta, Sabtu (18/9). Ditlantas Polda Metro Jaya memberlakukan kebijakan pembatasan mobilitas warga dengan sistem ganjil genap pada dua kawasan TMII dan Taman Impian Jaya Ancol pada hari Jumat, Sabtu dan Ahad mulai pukul 12.00-18.00 WIB. Republika/Putra M. Akbar

Petugas gabungan mengimbau kendaraan berplat nomor ganjil untuk berputar arah saat pengendalian mobilitas ganjil genap untuk pengunjung TMII di Jalan Pintu 1 TMII, Jakarta, Sabtu (18/9). Ditlantas Polda Metro Jaya memberlakukan kebijakan pembatasan mobilitas warga dengan sistem ganjil genap pada dua kawasan TMII dan Taman Impian Jaya Ancol pada hari Jumat, Sabtu dan Ahad mulai pukul 12.00-18.00 WIB. Republika/Putra M. Akbar

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pemerintah diminta segera menerbitkan aturan cegah gelombang ketiga Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Wahyu Suryana, Febrianto Adi Saputro

Berbagai negara di dunia sedang merasakan kembali kenaikan kasus Covid-19. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengingatkan saat ini negara-negara di dunia menghadapi gelombang ketiga Covid-19. Padahal, cakupan vaksinasinya sudah di atas 70 persen dan sistem pendataannya sudah baik.

"Dunia saat ini menghadapi gelombang ketiga, misalnya Australia. Padahal, kalau bicara cakupan vaksinasi dosis penuh di Australia sudah 2,5 kali dari Indonesia atau sekitar 70 persen," ujarnya, Jumat (22/10).

Tak hanya cakupan vaksinasi yang tinggi, pria yang tengah menyelesaikan studi doktoral di Universitas Griffith itu  menyaksikan sistem pendataan Covid-19 negeri kangguru itu sudah bagus. Namun, dia melanjutkan, ketika membahas varian delta yang banyak terjadi di dunia maka tentu harus melihat cakupan vaksinasi.

Namun, dia melanjutkan, faktanya tetap terjadi gelombang ketiga dan jauh lebih tinggi dari gelombang dua dan gelombang pertama. Tak hanya Australia, ia merujuk pada benua yang paling bagus dalam deteksi tes, telusur, dan tindaklanjut (3T) yaitu Eropa. Bagusnya penanganan 3T yang dilakukan di Eropa membuat ini menjadi rujukan negara lain. Namun, dia melanjutkan, kasus Covid-19 di negara-negara di Eropa meningkat.

"Bahkan, infeksi Covid-19 di Eropa meningkat di atas 7 persen, kemudian kematiannya 10 persen," katanya.

Kalau melihat cakupan vaksinasi Indonesia yang masih belum 100 persen, dia mengakui artinya masih rawan. Sehingga, ia percaya gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia adalah keniscayaan karena masih banyak jumlah orang yang belum divaksin.

Artinya belum ada proteksi karena banyak orang yang belum divaksinasi. Kemudian jika gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia terjadi, ia menyebutkan DKI Jakarta yang bagus dalam 3T bisa jadi barometer. Kemudian kalau kasus di ibu kota meningkat maka bisa menjadi indikator.

Prediksinya Indonesia akan diterjang gelombang ketiga pada akhir tahun ini. Pakar epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Riris Andono Ahmad mengatakan, gelombang ketiga covid merupakan sebuah keniscayaan.

Ia menilai, saat ini kemungkinan terjadinya gelombang covid merupakan sebuah keniscayaan. Maka itu, Doni menekankan, kapan akan terjadi dan seberapa tinggi ini sangat tergantung terhadap situasi yang berkembang di masyarakat sendiri.

Doni menekankan, kemunculan gelombang ketiga atau gelombang-gelombang lainnya sangat tergantung kepada kondisi di masyarakat. Ia merasa, mobilitas, interaksi sosial dan kepatuhan dalam implementasi 3M bisa memicul gelombang covid ketiga.

Maka itu, ia mengingatkan, virus corona masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tidak memiliki kekebalan. Sedangkan, orang yang telah mendapatkan vaksin covid, kekebalan yang didapat akan pula menurun seiring berjalannya waktu.

"Jadi, tidak hanya satu kali gelombang ketiga lalu setop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global," kata Doni, Jumat (22/10).

Terkait vaksinasi, Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini menerangkan, beberapa negara dengan cakupan vaksinasi relatif tinggi saat ini sedang terus berjuang akibat varian delta. Seperti Israel, Inggris, Amerika dan negara-negara Eropa.

Ia menjelaskan, saat ada varian delta dengan tingkat penularan lebih tinggi butuh cakupan imunitas lebih tinggi dalam populasi. Misal, sebelumnya untuk mendapatkan kekebalan kelompok sekitar 70 persen populasi harus sudah divaksin.

Namun, sejak ada delta, cakupan vaksinasi ditingkatkan 80 persen. Itupun dengan anggapan vaksin yang diberi memiliki efektvitas 100 persen. Artinya, Indonesia untuk bisa mencapai 80 persen, sekitar 239 juta penduduk harus sudah divaksin.

"Dalam pelaksanan, seyogianya dilakukan dalam waktu kurang dari enam bulan agar bisa terwujud kekebalan kelompok. Ini kan sulit, misalnya sangguppun kekebalan kelompok hanya bertahan beberapa saat dan akan terus berkurang," ujar Doni.

Untuk itu, Doni meminta masyarakat agar tetap waspada dan tidak lengah. Sebab, walaupun saat ini kondisi terbilang membaik, tapi pandemi belum usai dan risiko penularan masih ada, terutama saat adanya pelonggaran aktivitas di masyarakat.

Saat penularan tinggi dilakukan, intervensi besar-besaran dengan PPKM. Begitu terkendali, aktivitas dilonggarakan karena tidak mungkin terus PPKM karena akan melumpuhkan perekonomian. Namun, pelonggaran berisiko penularan akan meningkat.

Karenanya, Doni kembali mengimbau masyarakat Indonesia untuk tetap patuh dalam menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, ia meminta pemerintah untuk terus memperkuat penanganan 3T.





BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA