Jumat 22 Oct 2021 18:31 WIB

Cendekiawan Sebut Indonesia Hadapi Zaman Bergerak

Indonesia juga memiliki problem, kerentanan, dan tantangan yang tak kalah seriusnya.

Rep: Antara/Erik PP/ Red: Erik Purnama Putra
Cendekiawan sosial politik Dimas Oky Nugroho, PhD.
Foto: Dok Lemhannas
Cendekiawan sosial politik Dimas Oky Nugroho, PhD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cendekiawan sosial politik Dimas Oky Nurgoho, PhD, menyebut, Indonesia menghadapi sebuah 'zaman bergerak'. Hal itu ditandai mulai munculnya new media, yang kemudian melahirkan new economy, dan selanjutnya menghasilkan new politics.

Secara sosiologis, sambung dia, lazimnya pergerakan sosial, ekonomi, dan politik melahirkan dampak ikutan. Terlebih lagi jika ditambah dengan cengkeraman pandemi Covid-19 dan berbagai dampak perubahan sosial yang terjadi.

"Maka, respon masyarakat terhadap krisis dan tekanan perubahan dapat terbelah ke dalam dua kemungkinan, adaptasi, melahirkan sebuah kompromi atau konsensus, atau sebaliknya, keresahan, kesenjangan yang melahirkan ketegangan, bahkan konflik," kata  Dimas di acara Jakarta Geopolitical Forum (JGF) V/2021 yang diadakan Lemhannas, Jumat, (22/10).

Dimas pun meneropong situasi Indonesia dalam menghadapi gegar budaya sebagai implikasi transformasi sosial, ekonomi, politik yang terjadi di era kekinian dalam acara JGF ke-V. Menurut Dimas, Indonesia adalah negara kepulauan, majemuk secara sosio historis, yang memiliki pengalaman transformasi yang tak mudah, dramatis, bahkan traumatik pada sejumlah fase ekonomi politik yang menentukan.

Sebagai negara besar, kata dia, dengan sumber daya yang besar, demografi dan potensi pasar yang kuat, Indonesia juga memiliki problem, kerentanan, dan tantangan yang tak kalah seriusnya.

"Saya berpendapat bahwa faktor pandemi Covid-19 telah menjadi variabel tidak terduga by nature, namun by force telah membuka peluang sekaligus memaksa negara-bangsa Indonesia dengan segala problem sosio historisnya untuk melakukan kompromi, rekonsiliasi dan konsolidasi politik," kata Dimas. 

Di tataran suprastruktur negara, menurut Dimas, sekaligus melakukan pembenahan pada tataran infrastruktur pemerintahan dan pelayanan publik.

Dalam perspektif politik, kata dia, momen pandemi yang terjadi di tengah tekanan transformasi digital dan lanskap sosial ekonomi yang berubah, telah menjadi kesempatan bagi Indonesia yang beragam merumuskan ulang dan mereformulasikan strategi kebangsaannya.

Hal itu untuk mengantisipasi dan beradaptasi terhadap himpitan sekaligus peluang di era baru. "Ini untuk mengantisipasi dan beradaptasi terhadap himpitan sekaligus peluang di era baru," ucap Dimas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement