Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Perempuan Ini Terinfeksi Virus Corona Selama Hampir Setahun

Jumat 22 Oct 2021 14:28 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi virus corona.

Ilustrasi virus corona.

Foto: Pixabay
Penyintas kanker di AS terinfeksi covid-19 selama 335 hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim peneliti melaporkan kasus Covid-19 terlama. Kasus ini dialami oleh seorang perempuan penyintas kanker. Dia terinfeksi virus corona jenis baru (Covid-19) selama hampir satu tahun. 

Ini merupakan kasus Covid-19 terlama yang pernah dilaporkan. Menurut laporan, kasus dialami oleh seorang perempuan berusia 47 tahun asal Amerika pada pertengahan 2020. 

Baca Juga

Saat situ, perempuan tersebut dirawat di National Institutes of Health (NIH) di Maryland, Amerika Serikat (AS). Infeksi virus corona jenis baru yang dialaminya selama 335 hari dan dilacak melalui tes berulang. 

Gejala yang masih ada membuat perempuan tersebut tetap membutuhkan alat oksigen tambahan di rumah. Meski hasil tes Covid-19 menunjukkan dirinya masih positif, tingkat virus di tubuhnya hampir tidak terdeteksi selama berbulan setelah infeksi awal terjadi. 

Pada Maret lalu, tingkat virus di tubuh perempuan tersebut melonjak. Para peneliti membandingkan genom dari sampel yang dikumpulkan selama infeksi awal dan menemukan bahwa virusnya sama. 

Dengan kata lain, pasien tersebut tidak terinfeksi ulang. Namun, ia terus menyimpan virus corona jenis baru yang sama selama hampir satu tahun. 

Virus corona jenis baru kemungkinan dapat bertahan begitu lama di tubuh perempuan itu karena dirinya memiliki sistem kekebalan yang terganggu, pasca pengobatan limfoma atau kanker di bagian sistem kekebalan. Pasien ini telah berhasil diobati dengan terapi sel T CAR sekitar tiga tahun lalu, yang melemahkan sistem kekebalannya dengan menghabiskan sebagian besar sel B-nya, sel sistem kekebalan yang membuat antibodi.

“Kasus infeksi pada pasien dengan sistem kekebalan yang lemah memberi Anda gambaran tentang bagaimana virus menjelajahi ruang genetik,” ujar penulis studi senior Elodie Ghedin, seorang ahli virologi molekuler di NIH, dilansir Live Science, Jumat (22/10). 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA