Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

AS Timbang Langkah Politik Ekonomi Terkait Krisis Myanmar

Jumat 22 Oct 2021 01:16 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Demonstran memegang plakat yang menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil tindakan, selama protes melawan kudeta militer Myanmar, di Yangon, Myanmar, 22 Februari 2021. AS tegaskan dukungan ke rakyat Myanmar dan aspirasi untuk kebebasan dan demokrasi.

Demonstran memegang plakat yang menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil tindakan, selama protes melawan kudeta militer Myanmar, di Yangon, Myanmar, 22 Februari 2021. AS tegaskan dukungan ke rakyat Myanmar dan aspirasi untuk kebebasan dan demokrasi.

Foto: EPA-EFE/NYEIN CHAN NAING
AS tegaskan dukungan ke rakyat Myanmar dan aspirasi untuk kebebasan dan demokrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Penasihat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Derek Chollet mengatakan AS mempertimbangkan langkah-langkah politik dan ekonomi untuk menekan junta militer Myanmar agar mengubah perilakunya.

"Situasi di Myanmar semakin buruk baik dari hal kemanusiaan, keamanan, ekonomi, maupun politik," ujar Derek Chollet dalam konferensi pers melalui telepon di Jakarta, Kamis (21/10).

Baca Juga

Ia menegaskan dukungan AS untuk rakyat Myanmar dan aspirasi mereka untuk kebebasan dan demokrasi. Masyarakat internasional termasuk negara-negara tetangga memiliki tanggung jawab mendesak untuk menekan rezim militer agar menghentikan kekerasan, membebaskan mereka yang ditahan secara tidak adil, menghormati kehendak rakyat yang semuanya mendambakan pemulihan Myanmar ke jalan demokrasi.

Chollet mengatakan pemerintah negara lain juga dapat mengambil langkah politik dan ekonomi untuk menekan junta militer Myanmar. "Apa yang kami coba lakukan adalah menawarkan pandangan terbaik kami dan mendengar mitra yang berbeda dari kawasan ini," terang dia.

Chollet mengatakan Amerika Serikat mempertimbangkan kepentingan sekutu maupun mitra di kawasan Asia Tenggara. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan ASEAN adalah pusat arsitektur kawasan Indo-Pasifik dan sangat penting bagi stabilitas, peluang ekonomi, dan visi Amerika Serikat untuk tatanan internasional berbasis aturan.

"Kami akan terus memperkuat sentralitas ASEAN dan kemitraan strategis kami dengan ASEAN dan anggotanya," jelas Chollet.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA