Kamis 21 Oct 2021 17:46 WIB

BPK Ungkap Skenario Terbaik dan Terburuk Pascapandemi

Skenario terburuk pascapandemi menyebut kebijakan Pemerintah tidak efektif

Ketua BPK Agung Firman Sampurna dalam peluncuran Buku Pendapat Strategic Foresight pertama yang berjudul Membangun Kembali Indonesia dari COVID-19: Skenario, Peluang, dan Tantangan Pemerintah yang Tangguh, dan Website Strategic Foresight BPK pada Kamis (21/10).
Foto: BPK
Ketua BPK Agung Firman Sampurna dalam peluncuran Buku Pendapat Strategic Foresight pertama yang berjudul Membangun Kembali Indonesia dari COVID-19: Skenario, Peluang, dan Tantangan Pemerintah yang Tangguh, dan Website Strategic Foresight BPK pada Kamis (21/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK) menyampaikan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada 5 tahun ke depan (2021-2026) dalam 4 skenario. Selain itu ada 5 tema dalam skenario yang menurut pendapat BPK perlu diantisipasi pemerintah yaitu reformasi kesehatan, reformasi pajak dan kesinambungan fiskal, visi dan kepemimpinan pemerintah, transformasi digital dan tata kelola data, serta kualitas sumber daya manusia.

“Tema-tema tersebut perlu mendapat perhatian pemerintah karena akan turut menentukan keberhasilan Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 maupun kemungkinan terjadinya pandemi, bencana, dan krisis global di kemudian hari,” jelas Ketua BPK Agung Firman Sampurna dalam peluncuran Buku Pendapat Strategic Foresight pertama yang berjudul Membangun Kembali Indonesia dari COVID-19: Skenario, Peluang, dan Tantangan Pemerintah yang Tangguh, dan Website Strategic Foresight BPK pada Kamis (21/10). Buku ini telah disampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo pada 15 Oktober 2021 di Istana Negara.

Dalam tugas melakukan pemeriksaannya, BPK memiliki 3 peran oversight, insight dan foresight. Peran oversight dan insight diwujudkan dalam tugas pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu, serta pemberian pendapat kepada pemerintah. Peran foresight dilakukan untuk membantu masyarakat dan pengambil keputusan dalam memilih alternatif kebijakan masa depan. 

Penyusunan Foresight ini membuat BPK menjadi Supreme Audit Institution ke-2 di Asia setelah Korea Selatan dan yang pertama di Asia Tenggara, yang memiliki kemampuan foresight. Foresight BPK disusun menggunakan metode scenario planning dan data yang bersumber dari hasil pemeriksaan BPK, tren dalam negeri, regional, dan global.

Empat skenario yang disampaikan BPK dalam Buku Foresight tersebut pertama, skenario Berlayar Menaklukkan Samudera dimana respon pemerintah terhadap krisis menjadi lebih efektif dan tingkat keparahan pandemi mereda. Kedua, skenario Mengarung di Tengah Badai, dimana respon pemerintah terhadap krisis menjadi lebih efektif di tengah pandemi yang makin memburuk.

Ketiga, skenario Tercerai-berai Terhempas Lautan, merupakan skenario terburuk yang menggambarkan masa depan yang penuh risiko dan bahaya. Respon pemerintah terhadap krisis kurang efektif dan tingkat keparahan pandemi makin memburuk. Keempat, skenario Kandas Telantar Surutnya Pantai, ditandai dengan meredanya pandemi namun respon pemerintah terhadap krisis kurang efektif.

“Skenario yang disajikan dalam Foresight BPK bukanlah prediksi tentang masa depan, tetapi sarana untuk melihat kembali berbagai asumsi tentang masa depan, agar kita tidak terlena dengan harapanharapan dan agar kita mampu melihat lebih jernih kesiapan menghadapi masa depan,” pungkas Ketua BPK.

BPK berharap dapat menginspirasi pemerintah pusat dan daerah untuk memulai menerapkan strategic foresight untuk mengantisipasi ketidakpastian di masa mendatang

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement