Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Nabi Ibrahim Ajak Kaumnya Mengamati Benda Langit

Kamis 21 Oct 2021 12:48 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

Nabi Ibrahim Ajak Kaumnya Mengamati Benda Langit

Nabi Ibrahim Ajak Kaumnya Mengamati Benda Langit

Foto: nasa.gov
Pengamatan itu sebagai taktik untuk mengajak kaumnya berpikir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam mengamati matahari (bintang), planet, dan bulan saat mencari Tuhan masyhur di kalangan umat Islam.

Namun, sebagian mufassir mengatakan sebenarnya Nabi Ibrahim telah mengenal Allah Yang Maha Kekal. Nabi Ibrahim melakukan pengamatan itu sebagai taktik untuk mengajak kaumnya berpikir agar tidak menyembah benda yang muncul dan menghilang.

Baca Juga

Hal ini dijelaskan dalam Tafsir Kementerian Agama pada Surah Al-An'am Ayat 76.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, "Inilah Tuhanku." Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, "Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An'am: 76).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan proses pengenalan Nabi Ibrahim secara terperinci. Pengamatan pertama Nabi Ibrahim tertuju pada bintang-bintang, yaitu pada saat bintang nampak bercahaya dan pada saat bintang itu tidak bercahaya, dilihatnya sebuah bintang yang bercahaya paling terang (Musyatari), ada pula yang mengatakan planet Jupiter dan Venus (Zahrah) yang dianggap sebagai dewa oleh pemuja bintang yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno. Kaum Nabi Ibrahim juga termasuk pemuja bintang tersebut.

Maka timbullah pertanyaan dalam hati Nabi Ibrahim, "Inikah Tuhanku?" Pertanyaan ini merupakan pengingkaran terhadap anggapan kaumnya agar mereka tersentak untuk memerhatikan alasan-alasan pengingkaran yang akan dikemukakan.

Setelah bintang itu tenggelam dan sirna dari pandangan Nabi Ibrahim, timbul keyakinan bahwa yang tenggelam dan menghilang tidak bisa dianggap sebagai Tuhan. Ini sebagai alasan Nabi Ibrahim untuk mematahkan keyakinan kaumnya, bahwa semua yang mengalami perubahan itu tidak pantas dianggap sebagai Tuhan.

Kesimpulan Ibrahim itu merupakan hasil pemikiran dan pengamatan yang benar dan sesuai dengan fitrah. Siapa yang melakukan pengamatan serupa itu, niscaya akan punya kesimpulan yang sama.

Sementara itu sebagian mufassir seperti Ibnu Katsir mengatakan pengamatan Nabi Ibrahim terhadap planet, bulan dan bintang atau matahari bukanlah pengamatan pertamanya. Ini sebenarnya taktik Nabi Ibrahim untuk mengajak kaumnya agar tidak menyembah suatu benda yang timbul tenggelam. Supaya kaumnya menyembah Allah yakni Zat Yang Kekal dan Abadi.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA