Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Proses Holding BUMN Pangan Tinggal Selangkah Lagi

Rabu 20 Oct 2021 04:34 WIB

Red: Budi Raharjo

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI menggelar tasyakuran seiring dengan bertambahnya usia korporasi yang ke-57 tahun.

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI menggelar tasyakuran seiring dengan bertambahnya usia korporasi yang ke-57 tahun.

Foto: RNI
RNI komitmen berinovasi untuk pangan tumbuh Indonesia tangguh 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI menggelar tasyakuran seiring dengan bertambahnya usia korporasi yang ke-57 tahun. Tahun ini, perusahaan pelat merah ini mengusung tema Pangan Tumbuh Indonesia Tangguh.

“Ini wujud komitmen kami untuk transformasi ekosistem pangan nasional melalui inovasi-inovasi teknologi pangan,” ujar Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi.

Pada momen tasyakuran ini, Arief juga mengucapkan rasa syukur dan harapan besar untuk RNI mengingat proses holding BUMN Pangan tinggal selangkah lagi. Menurutnya proses holding sudah berada di ujung jalan. "Kita sudah melakukan harmonisasi untuk inbreng Holding BUMN Pangan. Setelah harmonisasi kita sekarang menunggu rancangan peraturan pemerintah (RPP) menuju peraturan pemerintah (PP),” kata dia mengungkapkan.

Pada rangkaian HUT RNI ke 57 ini, gelaran inovasi teknologi digitalisasi untuk pangan turut diterapkan melibatkan inovasi milenial untuk transformasi pangan. “Para milenial yang tergabung di RNI Group maupun BUMN klaster pangan, kami siapkan untuk menciptakan inovasi-inovasi baru guna mendukung transformasi ekosistem pangan," ujarnya.

Dalam rangkaian ulang tahun ini RNI telah mempersiapkan grand launching produk retail pangan komoditas beras, minyak, gula, kecap, dan nonpangan seperti tissue dan hand sanitizer. “Pekan depan kami menyiapkan grand launching beberapa produk retail pangan maupun nonpangan,” ujar Arief.  

Komisaris Independen RNI Marsudi Wahyu Kisworo menambahkan pangan itu syaratnya harus murah, terjangkau, namun produksinya harus efisien. "Maka dari itu cara kita untuk meningkatkan agar pangan menjadi terjangkau, satu-satunya cara adalah menekan biaya produksi," kata dia. "Dan menekan ongkos produksi adalah salah satu kehebatan dari digitalisasi, baik di sektor hulu misalnya ladang dan kebun, kemudian di bagian processing sampai ke distribusi, serta pengolahan hasil akhirnya." 

Penerapan teknologi digital, ujar Marsudi melanjutkan, mulai dari kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), machine learning, dan digitalisasi di semua sektor, akan menurunkan biaya. Dan ketika biaya turun maka margin akan mengalami kenaikan.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA