Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Kelurahan Kemal Attaturk di Kawasan Menteng?

Rabu 20 Oct 2021 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Patung Mustafa Kemal Ataturk di Taksim Square, Istanbul, Turki.

Patung Mustafa Kemal Ataturk di Taksim Square, Istanbul, Turki.

Foto: Reuters
Sejarah dan peluang penggantian nama jalan Kemal Attaturk di Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, dan Budayawan Betawi.

Saat ini muncul desakan agar di  Jakarta, dan itu di kawasan Menteng, agar ada nama Jl Kemal Attaturk. Ketika ide dipasarkan maka segera memantik timbul pro-kontra. Dikabarkan Wagub DKI Jakarta Patria sudah setuju.

Dalam soal seperti ini, dahulu di era Orde Lama, kala hendak ke kawasan Bandara Kemayoran ada nama jalan Angkasa. Jalan itu membentang dari arah perempatan Pintu Besi-Gunung Sari ke timur. Pada zaman Presiden Soekarno dipuncak kekuasaan atau masa yang lazim disebut Orde Lama, nama jalan diganti nama Jl Patrice Lumumba. Ini karena Bung Karno berkawan akrab dengan Patrice Lumumba yang merupakan pemimpin anti-kolonial Afrika dan Perdana Menteri Republik Demokratik Kongo yang dipilih secara demokratis.

Sama dengan Bung Karno, Lumumba adalah pejuang kemerdekaan Kongo ketika negara itu berjuang melepaskan diri dari Kolonial Belgia pada Juni 1960. Namun nasib dia tragis. Berselang sepuluh minggu kemudian, pemerintahan Lumumba dijatuhkan melalui kudeta. Pemberin nama jalan ini juga dilakukan karena di Kongo juga nama Soekarno menjadi nama jalan: Ahmed Soekarno.

Namaun setelah Orde Lama tumbang, oleh penggantinya yakni rezim Orde Baru, nama kembali ke nama asal. Jalan kembali ke nama semula Jl Angkasa.

Kalau melihat di kawasan Menteng, di sana nama-nama jalannya hampir semua merupakan nama orang yang kemungkinan besar tak bisa diganti. Peluang satu-satunya untuk di ganti ada di ruas jalan Cikini.

Namun, harap dipahami nama Cikini itu juga nama bersejarah karena datang atau berasal dari kaum migran Brazil di masa lalu. Cikini dalam bahasa Brasil itu beratu 'tegak' yakni Cikinitza. Tapi bagi orang Indonesia masa kini atau untuk kalangan orang "atas" nama Cikini apakah bertai penting dalam sejarah? 

Juga nama kelurahan yang ada di deka Cikini, Gondangdia. Harap diketahui Dihiya (dia) itu bahasa Swahili yang artinya, agunglah dia (wanita). Boplo itu artinya 'tanah keras', Menteng itu artinya perluasan. Jl Raya Menteng tidak ada,  jalan Menteng Kecil ada. Jadi memang tak bisa dipakai untuk nama Kemal Attaturk.

Tapi memang masih ada peluang untuk nama Kemal Atatturk. Itu ada nama yang melekat pada nama 'Kelurahan Menteng'. Jadi apa dijadikan nama Kelurahan saja ya? Jadi Kelurahan Menteng nanti menjadi nama Kelurahan Kemal Attaturk? Jawabnya: "Tak bisalah!" Apalagi ada sebutan dalam bahasa Belanda dulu yang bilang, bila itu sampai terjadi maka malah menjadi tindakan verkleneren, ngecilin..?

Alhasil, kalau negara sahabat minta tokoh di negrinya (Kemal ditokohkan di Turki?) menjadi nama jalan di Jakarta dan itu mesti di Menteng, maka jelas tak tertampung.

Kembali pada masa zaman Orde Lama, kala itu Partai Komunis Indonesia (PKI) pajang di jalan-jalan kawasan Menteng dan ibu kota potret Karl Marx, Lenin, hingga Stalin secara besar-besaran. Sekarang dari negeri sahabat muncul keinginan sama agar tokoh atau orang asal negeri mereka yang sedang bekend dijadikan nama jalan.

Penyelsaian itu semua kini tergantung pada pengambil keputusan. Yang jelas, salah langkah ongkosnya bisa kegedean.  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA