Saturday, 29 Rabiul Akhir 1443 / 04 December 2021

Saturday, 29 Rabiul Akhir 1443 / 04 December 2021

Kasus Psikosis Melonjak di Inggris Selama Pandemi

Rabu 20 Oct 2021 03:00 WIB

Rep: Mgrol131/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi kesehatan mental

Ilustrasi kesehatan mental

Foto: Pixabay
Ada peningkatan 75 persen jumlah orang yang dirujuk atas dugaan psikosis

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kasus psikosis di Inggris melonjak selama dua tahun terakhir. Hal ini mengakibatkan banyaknya orang yang mengalami halusinasi dan pemikiran delusi di tengah tekanan pandemi Covid-19.

Menurut data National Health Service (NHS), terdapat peningkatan 75 persen jumlah orang yang dirujuk ke layanan kesehatan mental atas dugaan psikosis antara April 2019 dan April 2021.

Sepanjang musim panas, kenaikan terhadap kasus psikosis di Inggris terus berlanjut. Pada Juli 2021 terdapat 12.655 rujukan, naik 53 persen dari dari 8.252 rujukan pada Juli 2019.

Peningkatan ini memang terlihat sangat besar terjadi setahun terakhir, yakni pada saat lockdown nasional pertama di Inggris. Menurut data yang dianalisis oleh Badan Amal Rethink Mental Illness, lebih dari 13 ribu rujukan tercatat pada Mei 2021, naik 70 persen dari Mei sebelumnya ketika terdapat 7.813 rujukan.

Badan amal itu mendesak pemerintah untuk meningkatkan investasinya dalam berbagai pencegahan dini ‘psikosis’. Hal tersebut perlu dilakukan pemerintah agar penyakit yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih ini dapat tertangani, sebelum gangguan kesehatan mentalnya semakin memburuk.

Bahkan dalam statistik terlihat bahwa bukti nyata yang menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap penderita psikosis di seluruh populasi dunia selama pandemi.

Psikosis di Dunia

Sebuah studi pada awal bulan ini menemukan peningkatan pada kasus kecemasan dan depresi di seluruh dunia. Pada tahun 2020 saja, diperkirakan 76 juta kasus gangguan kecemasan bertambah dan 53 juta kasus gangguan depresi mayor bertambah.

Semua itu meningkat di luar yang diperkirakan jika tidak ada pandemi Covid-19. Para peneliti mengatakan wanita dan orang muda ialah yang paling terpengaruh secara tidak proporsional.

Psikosis mengakibatkan pengidapnya dapat melihat dan mendengar hal-hal yang orang lain tidak mengetahuinya atau halusinasi dan seringkali meyakini sesuatu yang tidak berdasar pada kenyataan, delusi. Gejala yang biasanya muncul seperti skizofrenia dan gangguan bipolar atau depresi berat. Namun psikosis juga bisa menjadi gejala tersendiri, biasanya dipicu oleh pengalaman traumatik, stres tinggi ataupun penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol.

Dilansir laman The Guardian, Rethink Mental Illness pun menyoroti pentingnya akses cepat untuk pengobatan, agar dapat mencegah sedini mungkin penyakit psikosis dan mengurangi risiko terpapar yang lebih parah. “Psikosis dapat berdampak buruk pada kehidupan orang-orang. Akses cepat ke pengobatan sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada kesehatan mental orang yang bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk pulih,” ujar Brian Dow, Wakil Kepala Eksekutif Rethink Mental Illness.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA