Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Cara Hulagu Khan Eksekusi Al Mutashim dan Mitos Terkait  

Selasa 19 Oct 2021 05:45 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Hulagu Khan eksekusi khalifah Abbasiyah Al Mutashim dengan cara tak wajar. Pasukan Mongol (ilustrasi)

Hulagu Khan eksekusi khalifah Abbasiyah Al Mutashim dengan cara tak wajar. Pasukan Mongol (ilustrasi)

Foto: republika
Hulagu Khan eksekusi khalifah Abbasiyah Al Mutashim dengan cara tak wajar

REPUBLIKA.CO.ID, — Sejak 1257, Hulagu Khan telah menarget Abbasiyah. Untuk mewujudkan rencananya, cucu Genghis Khan itu mempersiapkan kekuatan untuk menyerbu Baghdad. Tidak kurang dari 150 ribu orang pasukan berhasil dikumpulkannya. Di samping itu, para petinggi militer Mongol turut menyertainya. 

Antara Januari dan Februari 1258, pengepungan berlangsung terhadap ibu kota kekhalifahan Islam tersebut. Baghdad bagaikan telur di ujung tanduk. Sesudah benteng kota itu bisa dijebol, Hulagu kemudian bertemu dengan raja Abbasiyah saat itu, Al Mustashim. Keduanya terlibat pembicaraan empat mata. 

Baca Juga

Tentu, percakapan yang terjadi bukanlah antardua orang pemimpin yang setara. Pada faktanya, yang satu adalah mangsa bagi yang lain. Membuka pembicaraan, Hulagu meminta khalifah Al Mustashim untuk menyerahkan kepadanya upeti. Tidak punya pilihan lain, pemimpin Abbasiyah itu hanya bisa taat. Hulagu kemudian membagikan semua hasil rampasan itu kepada para panglima dan sekutunya. 

Sang pemimpin Mongol sempat menyaksikan sebuah menara besar di istana Baghdad yang penuh sesak akan harta benda milik al-Musta'sim. Menurut sejarawan Mesir Ibnu Al Furat (1334-1405), sebagaimana dinukil Justin Marozzi dalam Baghdad: City of Peace, City of Blood (2014), sang khalifah sempat dikurung dan dibiarkan kelaparan selama berhari-hari. 

Dengan kepayahan, Al Mustashim memohon air dan makanan. Hulagu kemudian menyuguhkan kepadanya emas, perak, dan berbagai perhiasan di atas beberapa piring sambil berkata, “Makanlah itu semua!” 

Semua ini tidak mungkin bisa dimakan,” kata Sang Khalifah. “Lantas, mengapa selama ini kau simpan semuanya untuk kepentingan pribadi? Mengapa tidak kau berikan saja kepada para prajuritmu? Mengapa emas, perak, dan juga pintu-pintu istanamu tidak kau lebur saja untuk menjadi senjata yang bisa kau gunakan untuk menghalau pasukanku?” jawab Hulagu.

Beberapa hari kemudian, Al Mutashim dimasukkan ke dalam karung. Dalam kondisi demikian, raja terakhir Abbasiyah itu diinjak-injak sampai tewas oleh kuda pasukan Hulagu. Cara eksekusi demikian sesuai dengan kepercayaan bangsa Mongol yang memandang tabu darah seorang bangsawan tumpah ke tanah. 

Sasaran kekejaman mereka tidak hanya kalangan istana, tetapi seluruh penduduk setempat. Pasukan Mongol menghancurkan apa pun yang dite muinya, termasuk Bait al-Hikmah. Semua buku di perpustakaan tersebut dibenamkan ke Sungai Tigris. Aliran airnya menjadi hitam lantaran endapan tinta. 

Ratusan tahun lamanya Baghdad menjadi mercusuar peradaban dunia Islam. Hanya dalam waktu beberapa pekan, pasukan Mongol mengubahnya menjadi sebuah kota mati. Beberapa tokoh Abbasiyah yang berhasil lolos dari maut kemudian tiba di Mesir. 

Mereka lalu menjadi khalifah boneka dengan kekuasaan eksekutif dipegang Bani Mamluk setempat. Dinasti itulah yang akhirnya sukses menghalau balatentara Mongol dalam Pertempuran Ain Jalut pada 1260.  

Baca juga : Kaligrafi Islam dalam Tinjauan Dua Sarjana Barat

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA