Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Wakil Ketua MPR: Maulid Jadi Jalan Teladani Perilaku Nabi

Senin 18 Oct 2021 18:56 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid dalam acara Temu Tokoh Kebangsaan di Universitas PGRI Wiranegara Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (21/12). Jazilul Fawaid mendorong pemerintah untuk terus mengevaluasi sistem pendidikan nasional, menyusul pandemi Covid-19 yang hingga saat ini angka kasusnya masih cukup tinggi.

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid dalam acara Temu Tokoh Kebangsaan di Universitas PGRI Wiranegara Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (21/12). Jazilul Fawaid mendorong pemerintah untuk terus mengevaluasi sistem pendidikan nasional, menyusul pandemi Covid-19 yang hingga saat ini angka kasusnya masih cukup tinggi.

Foto: MPR
Maulid Nabi SAW menjadi sarana untuk meneladani perilaku Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengajak umat Islam menjadikan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai jalan untuk makin meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW.

"Sudah selayaknya apa yang kita lakukan harus sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW," kata Jazilul Fawaid atau Gus Jazil dalam keterangannya di Jakarta, Senin (18/10).

Gus Jazil menilai, Nabi Muhammad tidak hanya mencontohkan bagaimana beribadah dalam urusan akhirat saja, tetapi juga dalam urusan keduniawian. Menurut dia, dalam urusan dagang, Nabi Muhammad kerap memberi resep bagaimana dagangan laris tanpa berbuat curang atau merugikan orang lain dengan menerapkan prinsip kejujuran.

"Nabi membawa umatnya kepada kehidupan yang terbuka dan berdampingan dengan umat yang lain. Pada masa kehidupan Nabi, di sana juga ada kehidupan kaum Nasrani, Yahudi, dan penganut-penganut kepercayaan yang lain," ujar dia.

Untuk hidup berdampingan dengan umat yang lain, kata Jazilul, Nabi Muhammad juga memiliki resepdan juga membuat perjanjian. Pada masa itu,  hidup berbagai macam umat beragama dan kepercayaan yang lain di Madinah. Di kalangan umat Islam juga ada dua kelompok, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar."Perbedaan yang ada oleh Nabi ingin dipersaudarakan, disatukan, dengan ikatan hukum yang disepakati bersama. Sebelum mempersaudarakan umat Islam dengan umat yang lain, Nabi lebih dahulu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, Nabi lebih dahulu menyelesaikan masalah internal umat Islam," kata dia.

Menurut dia, setelah sesama umat Islam saling bersaudara, Nabi membuat perjanjian dengan umat yang lain. Hal ini disebut dalam Piagam Madinah. Piagam itu, kata Jazilul, menjadi aturan bersama seluruh umat yang tinggal di Madinah. Adapun isinya mengenai persamaan hak, kewajiban, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Gus Jazil menekankan, umat Islam selain wajib meneladani bagaimana hidup berdampingan dengan umat yang lain, juga wajib meneladani bagaimana Nabi menyelesaikan perbedaan dan kepentingan antarumat."Nabi mencontohkan apabila ada perbedaan kepentingan dengan yang lain, cara yang dilakukan adalah bermusyawarah," ujar dia.

Sejarah kehidupan Nabi Muhammad di Madinah hingga lahirnya Piagam Madinah, kata dia, merupakan pengalaman hidup yang tepat di tengah masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Menurut dia, keberagaman kehidupan Madinah pada masa itu tak berbeda dengan di Indonesia. Keberagaman yang ada pada masa itu, kata Gus Jazil, bisa dipersatukan oleh Nabi dengan kesepakatan hukum dan musyawarah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA