Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Dirut Evergrande Temui Bank Investasi dan Kreditur Hong Kong

Sabtu 16 Oct 2021 15:24 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Pejalan kaki melintasi proyek perumahan Evergrande di Beijing, Rabu (22/9).

Pejalan kaki melintasi proyek perumahan Evergrande di Beijing, Rabu (22/9).

Foto: AP Photo/Andy Wong
Evergrande sedang berjuang mengatasi potensi gagal bayar utang 30 dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Direktur Utama Evergrande Group, Xia Haijun, dilaporkan tengah mengadakan pembicaraan dengan bank investasi dan kreditur di Hong Kong mengenai kemungkinan restrukturisasi dan penjualan aset, menurut dua orang sumber dikutip AP, Jumat (15/10). 

Seperti diketahui, Evergrande saat ini sedang berjuang mengatasi potensi gagal bayar utang lebih dari 300 miliar dolar AS. Sebagai direktur utama, Xia dipercaya oleh pemegang saham terbesar Evergrande Hui Ka Yan untuk menjalankan operasi termasuk pembiayaan perusahaan.

Pembicaraan Xia dengan bank investasi dan kreditur di Hong Kong belum pernah dilaporkan sebelumnya. Hingga saat ini belum dapat dipastikan perihal apa saja yang dibahas dalam pembicaraan tersebut.

Salah satu sumber mengatakan Xia perlu berkomunikasi dengan bank asing tentang perpanjangan dan pembayaran pinjaman. Sumber tersebut menolak untuk mengungkapkan identitas kreditur yang telah berbicara dengan Xia dalam beberapa hari terakhir.

"Xia juga perlu memilah-milah berapa banyak utang off-balance sheet yang dimiliki grup di luar negeri, karena banyak yang ditanggung di tingkat anak perusahaan dan dia sendiri mungkin tidak menyadarinya," katanya. 

Evergrande berencana melepaskan beberapa asetnya untuk mengumpulkan uang tunai. Namun upaya tersebut masih belum membuahkan banyak keberhasilan. Krisis Evergrande ini telah memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap pasar global dan ekonomi China.

Yuexiu Property telah menarik diri dari kesepakatan senilai 1,7 miliar dolar AS. Perusahaan milik negara China itu sebelumnya diusulkan untuk membeli gedung kantor pusat Evergrande di Hong Kong karena kekhawatiran tentang situasi keuangan pengembang yang buruk.

Meski demikian, pejabat bank sentral China, People Bank of China (PBC), mengatakan bahwa efek limpahan dari masalah utang Evergrande pada sistem perbankan dapat dikendalikan. Selain itu, ia menyebut eksposur risiko terhadap lembaga keuangan tidak besar. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA