Jumat 15 Oct 2021 18:40 WIB

Tiga Ekosistem Pendukung Kemandirian Pesantren

Kemenag menjadikan kemandirian pesantren sebagai salah satu program prioritas.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Tiga Ekosistem Pendukung Kemandirian Pesantren. Ilustrasi Pondok Pesantren
Foto: ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI
Tiga Ekosistem Pendukung Kemandirian Pesantren. Ilustrasi Pondok Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) menjadikan kemandirian pesantren sebagai salah satu program prioritas. Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, upaya menguatkan kemandirian pesantren menemukan momentum yang tepat karena ada tiga ekosistem pendukung.

Ketiganya adalah ekosistem digital, ekosistem UMKM, dan ekosistem halal. “Pandemi mampu mengakselerasi digitalisasi di berbagai sektor di Indonesia, semua aktivitas ekonomi sebagian besar kini mulai beralih menjadi platform digital, tidak terkecuali di lingkungan pondok pesantren,” ujarnya saat memberikan sambutan pada Simposium Khazanah Pemikiran Santri Dan Kajian Pesantren ‘Al-Multaqo Ad-Dawliy Lil-Bahts ‘An Afkar At-Thullab Wa-Dirasat Pesantren’ atau Mu’tamad di Tangerang Selatan, Kamis (14/10). 

Baca Juga

Momentum kedua adalah ekosistem UMKM. Dunia usaha masyarakat sekitar pesantren sebagian besar adalah dari kalangan UMKM.

“Bila terjadi kolaborasi pesantren dan UMKM di sekitarnya maka akselerasi pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat akan bisa terjadi lebih cepat,” jelasnya.  

Sedangkan momentum ketiga adalah ekosistem halal. Zainut melihat, dalam kurun 10 tahun terakhir, ada peningkatan tren industri halal yang cukup tinggi. Oleh karena itu, Zainut mendorong Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) untuk bekerja sama dengan pesantren dalam memperkuat ekosistem halal di Indonesia.

Selain kemandirian, penguatan moderasi beragama juga menjadi program prioritas Kementeruan Agama, dan pesantren memiliki peran penting di dalamnya. Sebab, kata Zainut, pesantren telah lama mempraktikan konsep dan aplikasi moderasi beragama. Bersama Pemerintah, pesantren tentu tidak tinggal diam melihat ancaman penetrasi budaya kekerasan dan ekstremisme. 

“Santri harus mampu meluruskan pemahaman kaum muda yang gemar menggunakan dalil agama dengan pemahaman yang literal dan ekstrem. Moderasi beragama menjadi penting untuk dikampanyekan,” ucapnya.

Mu'tamad perdana ini membahas penguatan peran pesantren dalam merespon problem sosial. Wamenag berharap, giat ini mampu menjadi momentum lahirnya pergulatan pemikiran santri dan kajian pesantren yang reflektif dan implementatif bagi penyelesaian problem-problem sosial keagamaan masyarakat kita. 

“Semoga santri semakin progresif, produktif dan berani untuk tampil merebut panggung-panggung keagamaan dengan menghadirkan narasi keagamaan yang damai, penuh kasih sayang dan persaudaraan,” kata Zainut. 

Simposium tersebut juga dihadiri oleh Dirjen Pendidikan Islam M Ali Ramdhani, Direktur PD Pontren Waryono Abdul Ghofur, dan sejumlah Narasumber Kunci Mu’tamad 2021. Acara yang mempertemukan santri, mahasantri dan pegiat pesantren ini berlangsung di Tangerang Selatan pada 13 -15 Oktober 2021. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement