Sunday, 13 Jumadil Akhir 1443 / 16 January 2022

Produksi Beras Naik, Kementan: Faktor Peralihan Varietas

Jumat 15 Oct 2021 14:23 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Sejumlah buruh tani memanen padi menggunakan sabit di areal persawahan desa Toabo, Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (30/9). Produksi beras hingga akhir 2021, diproyeksi mencapai 31,69 juta ton atau naik 1,12 persen dari tahun lalu.

Sejumlah buruh tani memanen padi menggunakan sabit di areal persawahan desa Toabo, Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (30/9). Produksi beras hingga akhir 2021, diproyeksi mencapai 31,69 juta ton atau naik 1,12 persen dari tahun lalu.

Foto: Antara/Akbar Tado
Produksi beras hingga akhir 2021 diproyeksi 31,69 juta ton atau naik 1,12 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produksi beras hingga akhir 2021, diproyeksi mencapai 31,69 juta ton atau naik 1,12 persen dari tahun lalu. Kenaikan bisa dicapai kendati total luas panen turun 1,33 persen menjadi 10,52 juta hektare (ha). Kementerian Pertanian (Kementan) meyakini, kenaikan tersebut merupakan hasil dari upaya peralihan varietas padi yang lebih unggul.

Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Ismail Wahab, menjelaskan, salah satu faktor yang dominan dari penggunaan varietas padi Inpari 32 dan Inpari 42 terutama di Jawa Tengah. Penggunaan dua varietas tersebut menggantikan varietas Ciherang yang sudah 21 tahun digunakan masyarakat petani. 

"Berdasarkan beberapa penelitian memang dia memiliki produktivitas lebih tinggi dan memang sudah harus diganti varietasnya karena mengalami degradasi," kata Ismail kepada Republika.co.id, Jumat (15/10).

Ismail menuturkan, potensi produk dari dua komoditas tersebut mencapai lebih dari 8 ton gabah kering panen (GKP) per hektare (ha). Dari sisi ketahanan juga cukup baik sehingga bisa menjadi solusi untuk upaya intensifikasi komoditas padi.

Varietas Inpari 32, kata Ismail, merupakan hasil pengembangan dari induk varietas Ciherang. Adapun pada Inpari 42 merupakan varietas baru yang yang disebut green super rice (GSR) yang bisa diandalkan petani.

"Varietas ini cocok di mana saja, sekalipun di lahan sawah yang kurang begitu bagus," kata Ismail.

Adapun soal faktor cuaca, Ismail menilai, tantangan tahun ini memang tidak begitu berat dibanding 2020 lalu. Namun, pada musim tanam II yang dimulai pada Juli-Agustus memang diakui curah hujan tidak setinggi tahun lalu sehingga tingkat kebasahan tanah lebih rendah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA