Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Melihat Potensi Sektor Properti Dalam 10 Tahun Ke Depan

Jumat 15 Oct 2021 04:12 WIB

Red: Hiru Muhammad

.Kebutuhan rumah tapak di saat pandemi yang belum usai saat ini meningkat signifikan. Meningkatnya kebutuhan rumah tapak tidak terlepas dari rangkaian stimulus yang diberikan pemerintah guna merangsang minat beli masyarakat yang lesu akibat pandemi Covid-19. Tampak maket perumahan di Cendana Parc Lippo Karawaci, Tangerang.

.Kebutuhan rumah tapak di saat pandemi yang belum usai saat ini meningkat signifikan. Meningkatnya kebutuhan rumah tapak tidak terlepas dari rangkaian stimulus yang diberikan pemerintah guna merangsang minat beli masyarakat yang lesu akibat pandemi Covid-19. Tampak maket perumahan di Cendana Parc Lippo Karawaci, Tangerang.

Foto: istimewa
Sektor properti menjadi salah satu faktor utama peningkatan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Berbagai daerah di Indonesia terus melaporkan penurunan jumlah kasus penularan Covid-19 yang membuat angka pandemi secara nasional terus menurun. Hal ini memberikan dampak langsung terhadap kebangkitan perekonomian sehingga periode Triwulan II/2021.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan yang positif ini mengindikasikan keberhasilan Pemerintah dalam upaya penanganan Covid-10. Secara khusus, Airlangga menyebut sektor properti menjadi salah satu faktor utama peningkatan ekonomi. “Karena itu Pemerintah akan terus menjadikan properti sebagai pendorong tren peningkatan pemulihan ekonomi nasional. Sektor properti memiliki multiplier effect, baik dari sisi forward linkage maupun backward linkage, terhadap 174 sub sektor industri baik secara langsung maupun tidak langsung dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 19 juta orang. Tidak ada alasan bagi Pemerintah untuk tidak memprioritaskan sektor ini,” ujarnya.

"Beberapa regulasi dan stimulus yang dikeluarkan Pemerintah juga telah memperlihatkan dampak positif. Kebijakan PPN 10 persen ditanggung Pemerintah misalnya, telah memberikan dampak pergerakan pasar untuk segmen masyarakat berpenghasilan menengah ke atas dan terjadi pertumbuhan penjualan secara signifikan untuk rumah seharga Rp500 juta ke atas. Hal ini berdampak pada capaian PDB Kuartal II/2021 dari sisi sektor real estate yang tumbuh 2,82 persen jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 0,94 persen. Sektor jasa konstruksi juga tumbuh 4,42 persen dan investasi penanaman modal tumbuh 7,54 persen dari sektor bangunan. Kami berharap indikator yang baik ini bisa terus didorong dan menjadi penyemangat para pelaku industri properti untuk terus mendukung pemulihan ekonomi nasional,” kata Airlangga.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan penduduk perkotaan di Indonesia saat ini mencapai 56,7 persen dan akan terus meningkat menjadi 66,6 persen di tahun 2035 hingga 72,8 persen di tahun 2045. Defisit atau backlog perumahan mencapai belasan juta dimana akan terdapat 15,5 juta penduduk Indonesia yang membutuhkan rumah tinggal. 

CEO PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) John Riady dalam keterangan tertulisnya Kamis (14/10) mengatakan, data dari Kemenko Perekonomian menjadi faktor penting yang menegaskan besarnya kebutuhan pasar perumahan sementara di sisi pengembang, baru bisa mensuplai sekitar 4.000 unit rumah. Padahal asumsi tingkat kepemilikan rumah di Indonesia saat ini baru 50 persen. "Perhitungan kami, kebutuhan rumah dalam 10 tahun ke depan bertambah menjadi 70 persen. Bila jumlah kepala keluarga 60 juta dan kebutuhan rumah bertambah 20 persen maka akan ada kebutuhan 12 juta rumah dalam 10 tahun ke depan. Artinya ada demand 1 juta rumah setiap tahun,” katanya.  

Optimisme telah ditunjukkan LPKR dalam meresponi dukungan pemerintah terhadap sektor properti dengan melakukan melepas produk lebih dari 4.000 rumah, termasuk Cendana Homes Series hingga delapan kali selama rentang waktu tahun 2020 dan 2021 yang selalu sold out hanya dalam waktu 5 jam.

Besarnya potensi pasar sektor perumahan ini mendorong LPKR menerapkan strategi yang tepat untuk menjawab kebutuhan pasar dengan menyasar kalangan milenial yang beradaptasi dengan new normal bekerja dari rumah. Pada Triwulan IV/2021 LPKR meluncurkan 3 produk unggulan yaitu The Hive @ Parc dan The Hive @ Himalaya yang merupakan gabungan konsep ‘one stop living’ hunian sambil berbisnis, serta Brava Himalaya klaster residensial eksklusif yang berlokasi di tengah kota Lippo Village dengan fasilitas yang telah matang. “Dengan penjualan yang sama baiknya pada anak usaha perusahaan, kami optimis LPKR akan menutup tahun 2021 dengan pencapaian target pra-penjualan senilai Rp 4,2 triliun.” ujar John.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA