Friday, 23 Rabiul Awwal 1443 / 29 October 2021

Friday, 23 Rabiul Awwal 1443 / 29 October 2021

Cile Umumkan Keadaan Darurat Usai Bentrokan Mapuche

Kamis 14 Oct 2021 00:10 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

 Presiden Cile Sebastian Pinera mengumumkan keadaan darurat usai bentrokan pecah antara penduduk asli Mapuche dan pasukan keamanan. Ilustrasi.

Presiden Cile Sebastian Pinera mengumumkan keadaan darurat usai bentrokan pecah antara penduduk asli Mapuche dan pasukan keamanan. Ilustrasi.

Foto: AP/Esteban Felix
Kelompok pribumi Mapuche menuntut pemulihan tanah leluhur dan penentuan nasib sendiri

REPUBLIKA.CO.ID, SANTIAGO - Presiden Cile Sebastian Pinera mengumumkan keadaan darurat usai bentrokan pecah antara penduduk asli Mapuche dan pasukan keamanan, Selasa (12/10) waktu setempat. Presiden juga memerintahkan pengerahan pasukan tambahan ke dua wilayah selatan Cile.

"Kami telah memutuskan untuk menyerukan keadaan pengecualian di empat provinsi di wilayah selatan Biobio dan Araucania dan pengerahan pasukan untuk mengendalikan 'gangguan serius ketertiban umum' di sana," ujar Pinera dalam pidatonya seperti dilansir laman Al Jazeera, Rabu (13/10).

Pemimpin berusia 71 tahun itu mengatakan empat provinsi yang bersangkutan telah mengalami tindakan kekerasan berulang terkait dengan perdagangan narkoba, terorisme, dan kejahatan terorganisir yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata. Warga sipil dan petugas polisi yang tidak bersalah telah tewas dalam kekerasan tersebut.

Presiden Pinera berbicara ketika libur nasional yang menandai penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus atau Hari Columbus. Masyarakat adat di seluruh Amerika menganggap penemuan itu bencana karena penjajahan berlangsung.

Mapuche menuntut pemulihan tanah leluhur dan penentuan nasib sendiri. Namun pemerintah menolak itu sehingga terjadi pergolakan dari kelompok Mapuche selama beberapa bulan belakangan.

Mapuche adalah kelompok pribumi terbesar di Cile. Mereka berjumlah sekitar 1,7 juta dari 19 juta penduduk negara itu dan sebagian besar tinggal di selatan.

Para pemimpin mereka menuntut agar tanah yang saat ini dimiliki oleh pertanian dan perusahaan penebangan kayu dikembalikan kepada mereka. Kurangnya solusi atas tuntutan mereka telah mendorong kelompok bersenjata untuk melakukan serangan terhadap truk dan properti pribadi selama 10 tahun terakhir.

Satu orang tewas dan 17 terluka pada Ahad pekan lalu ketika bentrokan pecah di ibu kota, Santiago, antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa yang berbaris untuk otonomi Mapuche. Koresponden Al Jazeera, Lucia Newman, melaporkan dari Santiago kelompok bersenjata Mapuche menjadi semakin berani selama beberapa bulan terakhir. Mapuche melakukan tindakan pembakaran, sabotase, dan pengambilalihan tanah.

"Presiden telah berada di bawah tekanan luar biasa selama berbulan-bulan sekarang dari kaum konservatif di dalam partainya sendiri dan kelompok-kelompok lain termasuk pengemudi truk, untuk menyerukan tahap pengepungan di Araucania, tetapi dia enggan melakukannya sampai sekarang," kata Newman.

"Konflik di wilayah Araucania telah meningkat dan banyak yang akan mengatakan bahwa negara Cile sebenarnya telah kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah itu," ujarnya menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA