Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Manusia Telah Gunakan Tembakau dari 12.300 Tahun Lalu

Rabu 13 Oct 2021 13:41 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Dwi Murdaningsih

Petani memetik daun tembakau saat berlangsungnya musim panen (ilustrasi).

Petani memetik daun tembakau saat berlangsungnya musim panen (ilustrasi).

Foto: Antara/Siswowidodo
Tembakau liar tersedia di pedalaman benua selama Pleistosen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para Ilmuwan mengungkapkan bahwa manusia mulai menggunakan tembakau setidaknya 12.300 tahun yang lalu. Jenis tembakau yang ditemukan adalah jenis liar Nicotiana attenuate, yang masih tumbuh di daerah Amerika Serikat hingga saat ini.

Dilansir dari independent.co.uk pada Rabu (13/10), menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behaviour, empat biji hangus dari tanaman tembakau liar ditemukan di sisa-sisa perapian yang dibangun oleh penduduk awal di gurun Great Salt Lake Utah, Amerika Serikat.

Baca Juga

"Spesies ini tidak pernah didomestikasi tetapi digunakan oleh penduduk asli di wilayah tersebut hingga hari ini,” kata Arkeolog sekaligus Penulis Utama Studi Daron Duke dari Far Western Anthropological Research Group di Nevada.

Dia menjelaskan penggunaan tembakau paling awal yang diketahui sebelum penemuan ini berasal dari 3.300 tahun, ketika residu nikotin ditemukan dalam pipa rokok dari Alabama. Pemburu atau pengumpul nomaden adalah orang-orang yang menemukan tembakau di situs Utah. Mereka mungkin merokok atau mengisap gumpalan serat tanaman untuk merangsang diri mereka dari nikotin.

"Data mengkonfirmasi kalau tembakau liar tersedia di pedalaman benua selama Pleistosen. Epoch yang dimulai sekitar 2,6 juta tahun yang lalu dan berakhir sekitar 11.700 tahun yang lalu dan mendukung kesimpulan bahwa sifat memabukkannya segera dikenali oleh orang-orang pada saat kedatangan mereka," kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA