Selasa 12 Oct 2021 15:26 WIB

Puluhan Warga Indramayu Alami Keracunan, Sebagian Anak-Anak

Puluhan warga kecamatan Indramayu diduga keracunan makanan usai ikut tahlilan

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Orang tua menunggui putranya yang menjadi salah satu korban keracunan makanan (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Destyan Sujarwoko
Orang tua menunggui putranya yang menjadi salah satu korban keracunan makanan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Sedikitnya 20 orang warga di dua desa di Kecamatan/Kabupaten Indramayu diduga mengalami gejala keracunan makanan, Senin (11/10) malam. Peristiwa itu terjadi usai mereka menyantap makanan tahlil yang diberikan oleh tetangga mereka.

Para korban itu merupakan warga Desa Singaraja dan Desa Singajaya. Mereka mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan tahlil yang berisi nasi, telur, oseng soun dan makanan lainnya.

‘’Setelah menyantap makanan dari tahlil, mereka mengalami pusing, mual, lemas dan buang air besar terus menerus,’’ ujar Kepala Desa Singajaya, Habiburahman.

Habiburahman mengatakan, warganya yang mengalami kondisi itu ada sepuluh orang. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari perangkat Desa Singaraja, kondisi serupa juga dialami oleh sekitar sepuluh warga Desa Singaraja.

‘’Jadi totalnya sekitar 20 orang,’’ kata Habiburahman.

Habiburahman mengatakan, dari sepuluh orang warganya yang diduga mengalami gejala keracunan tersebut, hanya sebagian yang dilarikan ke RSUD Indramayu. Sedangkan sisanya hanya menjalani perawatan di rumah.

Sementara itu, Kasubag Rekam Medis Hukum dan Humas RSUD Indramayu, Rina Yuniawati, menyebutkan, korban yang dibawa ke RSUD Indramayu ada empat orang.

‘’Semalam yang dibawa ke RSUD Indramayu ada empat orang. Terdiri dari dewasa  satu orang dan anak-anak tiga orang. Untuk yang anak-anak, umurnya sembilan tahun, 15 tahun dan 17 tahun,’’ terang Rina, Selasa (12/10).

Namun, lanjut Rina, pada pagi ini seluruh korban sudah diperbolehkan pulang. Kondisi mereka sudah membaik.

‘’Advis dari dokter jaga suruh dirawat, tapi mereka menolak. Jadi hanya diobservasi dan terapi saja. Pagi ini sudah pulang,’’ tandas Rina. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement