Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Runtuhnya Rezim Umayyah dan Cacian untuk Ali Bin Abi Thalib

Selasa 12 Oct 2021 05:57 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Dinasti Umayyah adalah negara yang sangat fanatis dengan Arab dan banyak memaki keluaga Ali bin Abi Thalib

Dinasti Umayyah adalah negara yang sangat fanatis dengan Arab dan banyak memaki keluaga Ali bin Abi Thalib

Foto: NET
Dinasti Umayyah adalah negara yang sangat fanatis dengan Arab.

REPUBLIKA.CO.ID, — Selama lebih dari delapan dekade, Bani Umayyah memimpin umat. Dalam kurun waktu tersebut, wilayah kekuasaannya terus meluas.

Bahkan, pada awal abad kedelapan sebagian besar Semenanjung Iberia di Eropa sudah ditaklukkannya. Akan tetapi, krisis politik kerap terjadi. Di antara pe nyebabnya ialah kecenderungan rajarajanya un tuk menyimpan bara dalam sekam.

Baca Juga

Sebagai gambaran, Dinasti Umayyah dalam sejarahnya me miliki 14 khalifah. Khususnya pada periode awal berdirinya kerajaan ini, hawa kebencian terhadap kubu Ali masih terasa kuat.

Barulah pada era Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pihak penguasa berupaya meminimalkan atau bahkan menghapus sentimen dari masa silam itu. Raja kedelapan Wangsa Umayyah tersebut pernah ditanya, Bagaimana pendapat Anda tentang Perang Shiffin dan Karbala?

Itu semua adalah pertumpahan darah yang darinya Allah selamatkan diriku. Sungguh, aku benci untuk mengotori lisanku dengan mengo mentarinya, jawab sang khalifah.

Para pendahulu Umar bin Abdul Aziz, karena merasa dendam terhadap Ali, mewajibkan para khatib untuk menutup khutbah dengan doa-doa keburukan bagi sepupu Rasulullah SAW itu. Berbeda dengan mereka semua, ia tidak hanya mencabut kewajiban itu, tetapi juga menggantinya dengan yang lebih baik.

Umar meminta para khatib untuk menutup khutbah dengan membacakan sebagian dari firman Allah Ta'ala, yakni Alquran surah an-Nahl ayat 90:

Innallaaha ya`muru bil 'adli wal ihsaani wa iitaa `idzil qurbaa wa yanhaa 'anil fahsyaa `iwal munkari walbagh-i' ya'izhukum la'allakum tadzakkkaruun.

(Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat kebajikan [ihsan], memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.) Tradisi yang dimulainya terus bertahan bahkan hingga saat ini di banyak negeri Muslim, termasuk Indonesia.

Sesudah wafatnya Umar bin Abdul Aziz pada 720 M, Dinasti Umayyah memunculkan lagi watak otoriter. Kaum bangsawannya juga kembali memamerkan gaya hidup flamboyan dengan hak-hak istimewanya. Semua itu menyemai bibit-bibit perlawanan di kemudian hari.

Baca juga : Gerhana tak Terkait Kematian dan Kelahiran

 

sumber : Harian Republika
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA