Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Ulama Persia Non-Arab yang Berjasa untuk Islam dan Dunia

Selasa 12 Oct 2021 05:55 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Peradaban Islam ditopang para ulama yang berasal dari non-Arab. Sains Islam (ilustrasi)

Peradaban Islam ditopang para ulama yang berasal dari non-Arab. Sains Islam (ilustrasi)

Peradaban Islam ditopang para ulama yang berasal dari non-Arab

REPUBLIKA.CO.ID, — Pengaruh besar kaum mawali Persia tidak hanya pada ranah politik Abbasiyah, tetapi juga peradaban umumnya.

Ada banyak tokoh dari kelompok sosial tersebut yang berkiprah dalam perkembangan ilmu- ilmu agama, pengeta huan, dan sains. Tidak sedikit darinya memimpin sejumlah pusat keilmuan yang dibangun rezim Abbasiyah di seluruh negeri Islam.

Baca Juga

Kebangkitan intelektual Peran signifikan kaum mawali Persia sangat terasa pada zaman keemasan Islam, yakni sejak era Abbasiyah hingga jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol 1258 M.

Mereka mencapai banyak hal, baik dalam dunia ilmu agama maupun umum. Dengan ilmu-ilmu agama yang dikuasainya, tokoh-tokoh mawali ini tidak kalah hebat dari para alim ulama Arab.

Di antara nama-nama yang masyhur ialah Syekh Hasan al-Bashri (wafat 728 M), Ibnu Juraij (wafat 767 M), Imam Abu Hanifah (wafat 767 M), at- Thabari (wafat 923 M), Ibnu Katsir (wafat 1373 M), dan Imam al-Ghazali (wafat 1111). Sumbangsih mereka bagi peradaban Islam bahkan diakui luas hingga saat ini.

Dalam bidang ilmu bahasa, peran kaum mawali tidak bisa dipandang sebelah mata. Golongan ini melahirkan banyak pakar gramatika dan sastra, baik bahasa Persia maupun Arab. Beberapa yang termasyhur di antaranya ialah Sibawaihi dan al-Farra.

Sosok yang pertama itu bernama asli Amr bin Utsman al-Bashri. Cendekiawan yang mengajar di Basrah pada zaman Abbasiyah itu menulis lima jilid buku Al-Kitab. Isinya membahas seluk-beluk bahasa Arab.

Sementara itu, al-Farra bernama asli Yahya bin Ziyad. Ia lahir di Iran utara, tepatnya daerah pegunungan Daylam. Sultan Harun al-Rasyid sangat menghormatinya karena keahliannya dalam penguasaan bahasa Arab murni. 

 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA