Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Merkel ke PM Israel: Solusi Dua Negara tak Boleh Dikubur

Senin 11 Oct 2021 10:59 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Kanselir Jerman Angela Merkel (kiri) menghadiri pertemuan kabinet dengan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett (kanan) di Yerusalem, 10 Oktober 2021.

Kanselir Jerman Angela Merkel (kiri) menghadiri pertemuan kabinet dengan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett (kanan) di Yerusalem, 10 Oktober 2021.

Foto: EPA-EFE/MENAHEM KAHANA
PM Israel Bennett tepis Merkel dan menolak pembentukan negara Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Hal itu disampaikan saat dia melakukan kunjungan resmi terakhirnya sebagai kanselir ke Israel pada Ahad (10/10).

“Saya pikir pada titik ini, bahkan jika pada tahap ini tampaknya hampir tidak ada harapan, gagasan solusi dua negara tidak boleh diambil dari meja, tidak boleh dikubur. Warga Palestina harus dapat hidup dengan aman dalam negara,” kata Merkel dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Naftali Bennett.

Merkel pun menyoroti tentang perkembangan proyek permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Menurutnya hal itu tak membantu proses perdamaian. Sementara itu, Bennett segera menentang penilaian Merkel.

Politisi sayap kanan itu tetap pada pendiriannya, yakni menolak pembentukan negara Palestina. “Berdasarkan pengalaman kami, arti negara Palestina berarti sangat mungkin akan ada negara teror, kira-kira tujuh menit dari rumah saya dan dari hampir semua titik di Israel,” ucap Bennett.

Kendati demikian, Bennett mengatakan, pemerintahannya siap mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kondisi kehidupan warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Komentar Bennett yang menyamakan pembentukan negara Palestina dengan kehadiran negara teror segera dikecam pejabat senior Palestina, Hussein al-Sheikh.

“Bentuk terorisme terburuk adalah pendudukan, bukan pembentukan negara Palestina,” kata al-Sheikh lewat akun Twitter pribadinya.

Sebelumnya, Pemerintah Jerman menjanjikan bantuan sebesar 100 juta euro untuk Palestina. Dana itu bakal digunakan untuk membiayai proyek-proyek penting di Jalur Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem.

Utusan khusus Jerman untuk Palestina, Oliver Owcza, memuji hubungan historis serta bilateral antara Palestina dan Jerman. Owcza menegaskan, negaranya mendukung penyelesaian konflik Israel-Palestina melalui mekanisme solusi dua negara. Jerman pun mendukung Palestina menggelar pemilu, termasuk di daerah yang diduduki Israel.

Perdana Menteri Palestina Mohamed Shtayyeh menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Jerman atas bantuan tersebut. Berlin, dalam pandangan Shtayyeh, juga konsisten mendukung hak-hak rakyat Palestina, termasuk memperoleh kemerdekaan.

Baca Juga

Baca juga : Tentara Israel Gerebek Rumah Ulama Pelindung Masjid Al-Aqsa

"Kami berharap teman-teman kami di Jerman, Uni Eropa, dan masyarakat internasional akan membantu menekan Israel untuk mengizinkan pemilu diadakan di semua wilayah Palestina, termasuk Yerusalem," kata Shtayyeh pada 15 September lalu, dilaporkan kantor berita Palestina, WAFA.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA