Jumat 08 Oct 2021 21:08 WIB

Israel Gunakan Jasad Warga Palestina Sebagai Alat Negosiasi

Kelompok HAM menilai kebijakan Israel sebagai bentuk hukuman kolektif.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah
Pelayat Palestina membawa jenazah petugas keamanan Tayseer Ayasi saat pemakamannya di desa Sanour dekat Kota Jenin, Tepi Barat, 10 Juni 2021. Tiga warga Palestina tewas setelah pasukan Israel melakukan penggerebekan di Jenin.
Foto: EPA/ALAA BADARNEH
Pelayat Palestina membawa jenazah petugas keamanan Tayseer Ayasi saat pemakamannya di desa Sanour dekat Kota Jenin, Tepi Barat, 10 Juni 2021. Tiga warga Palestina tewas setelah pasukan Israel melakukan penggerebekan di Jenin.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Israel menggunakan jenazah warga Palestina yang menjadi korban pertempuran sebagai alat negosiasi. Israel menahan jenazah warga Palestina dengan alasan untuk mencegah serangan, dan sebagai alat tukar terhadap dua jenazah tentara Israel yang ditahan oleh kelompok Hamas di Jalur Gaza.

Warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia menilai, tindakan Israel yang menahan jenazah merupakan bentuk hukuman kolektif. Hal ini semakin menambah penderitaan keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga

Pusat Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Yerusalem, mengatakan, Israel menahan setidaknya 82 jenazah warga Palestina sejak kebijakan itu ditetapkan pada 2015. Jenazah tersebut sebagian besar dimakamkan di sebuah pemakaman rahasia dan hanya ditandai dengan plakat angka. Sementara Hamas menahan jenazah dua tentara Israel yang tewas selama konflik Gaza 2014 di sebuah lokasi yang dirahasiakan.

Tahun lalu, Kabinet Keamanan Israel memperluas kebijakan tersebut dengan menahan semua jenazah warga Palestina yang tewas selama serangan. Menteri Pertahanan Benny Gantz pada saat itu mengatakan, kebijakan untuk menahan jenazah Palestina akan mencegah serangan. Kebijakan tersebut juga dapat membantu memastikan kembalinya tawanan dan jenazah tentara Israel.  Kementerian Pertahanan menolak mengomentari kebijakan tersebut lebih lanjut.

Seorang warga Palestina, Mustafa Erekat masih mencari putranya, Ahmed yang dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat selama lebih dari setahun. Menurut pejabat Israel, Ahmed ditembak dan dibunuh setelah dengan sengaja menabrak sebuah pos pemeriksaan militer pada Juni 2020.

Rekaman kamera keamanan menunjukkan mobil itu membelok dan menabrak ke sekelompok tentara Israel. Ahmed melangkah keluar dari mobil dan mengangkat salah satu tangannya sebelum dia ditembak beberapa kali hingga jatuh dan tersungkur ke tanah.

Keluarga Ahmed mengatakan, insiden itu adalah kecelakaan. Sementara Erekat mengatakan, putranya sedang melewati pos pemeriksaan dalam perjalanan ke kota Betlehem untuk membeli pakaian bagi saudara perempuannya. Pakaian itu akan digunakan di hari pernikahan Ahmed.

Erekat mengatakan, Ahmed ditembak mati menjelang hari pernikahannya. Penembakan itu menarik perhatian luas, karena Ahmed adalah keponakan Saeb Erekat, seorang juru bicara dan negosiator veteran Palestina yang meninggal dunia tahun lalu. Sampai saat ini, Erekat tidak mengetahui keberadaan jasad anaknya.

"Mereka tidak punya hak untuk menahan (jenazah) anak saya, dan itu adalah hak saya untuk menguburkan anak saya dengan baik,” kata Erekat, dilansir The Dawn, Jumat (8/10).

Erekat dan keluarga Palestina lainnya harus memperjuangkan kasus tersebut ke Mahkamah Agung Israel. Proses ini melibatkan banyak sidang yang berlarut-larut selama bertahun-tahun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement