Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

600 Ribu Warga Terdampak Banjir di Sudan Selatan

Jumat 08 Oct 2021 16:54 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Banjir Sudan Selatan (ilustrasi).

Banjir Sudan Selatan (ilustrasi).

Foto: EPA
Sejumlah sungai di Sudan Selatan meluap setelah hujan lebat.

REPUBLIKA.CO.ID, KHOURTUM -- Setidaknya 623 ribu orang terkena dampak banjir yang meluas di Sudan Selatan sejak Mei. Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) mengatakan, banyak warga yang meninggalkan rumah mereka karena terkena banjir.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, sejumlah sungai di Sudan Selatan meluap setelah hujan lebat, dan membanjiri rumah-rumah serta lahan pertanian di delapan dari 10 negara bagian. Jonglei dan Unity adalah negara bagian yang terkena dampak paling parah

Tim penyelamat menggunakan kano dan perahu untuk mengevakuasi warga. Lebih dari dua pertiga daerah yang terkena dampak banjir, saat ini menghadapi risiko kelaparan karena harga pangan melonjak sebanyak 15 persen sejak Agustus.

"Sekolah, rumah, fasilitas kesehatan, dan sumber air terendam, berdampak pada akses masyarakat terhadap layanan dasar. Akses fisik tetap menjadi tantangan utama bagi organisasi kemanusiaan untuk menilai dan menanggapi kebutuhan orang-orang yang terkena dampak banjir," ujar pernyataan OCHA, dilansir Aljazirah, Jumat (8/10).

Beberapa keluarga berhasil melarikan diri ke ibu kota, Juba. Sementara yang lain telah mendirikan kamp darurat di sepanjang jalan raya.

Menurut data Bank Dunia pada 2018, empat dari lima penduduk Sudan Selatan hidup dalam kemiskinan mutlak. Sementara lebih dari 60 persen dari 11 juta penduduknya menderita kelaparan parah akibat efek konflik, kekeringan, dan banjir.

Sejak mencapai kemerdekaan dari Sudan pada 2011, Sudan Selatan telah berada dalam pergolakan krisis ekonomi dan politik. Mereka sedang berupaya untuk pulih dari perang saudara selama lima tahun yang menewaskan hampir 400 ribu orang.

Sudan dan Sudan Selatan telah mencapai gencatan senjata pada 2018. Mereka juga sepakat untuk membagi kekuasaan antara Presiden Salva Kiir dan wakilnya Riek Machar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA