Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Delapan Tingkatan Wahyu yang Diterima Nabi Muhammad

Kamis 07 Oct 2021 20:29 WIB

Rep: Ratna ajeng tejomukti/ Red: Muhammad Hafil

Turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW

Turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW

Foto: republika
Nabi Muhammad menerima delapan tingkatan wahyu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syekh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri menyebutkan pejelasan mengenai oembahian wahyu sejak Muhammad menjadi nabi dan Rasul.  Ibnul Qayyim menyebutkan tingkatan-tingkatan wahyu, yaitu:

Pertama, mimpi yang hakiki. Ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Nabi.

Baca Juga

Kedua, wahyu yang disusupkan ke dalam jiwa dan hati beliau, tanpa dilihatnya, sebagaimana yang dikatakan Nabi , "Sesungguhnya Ruhul-Qudus menghembuskan ke dalam diriku, bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah, baguskan dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rezeki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menaati-Nya." 

Ketiga, malaikat muncul di hadapan Nabi dalam rupa seorang laki-laki, lalu berbicara dengan beliau hingga beliau bisa menangkap secara langsung apa yang dibicarakannya. Dalam tingkatan ini kadang-kadang para sahabat juga bisa melihatnya. 

Keempat, wahyu itu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Ini merupakan wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi, hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat sekalipun pada waktu yang sangat dingin, dan hingga hewan tunggangan beliau menderum ke tanah jika beliau sedang menaikinya. Wahyu seperti ini sekali pernah datang tatkala paha beliau berada di atas Zaid bin Tsabit, sehingga Zaid merasa keberatan dan hampir saja tidak kuat menyangganya.

Kelima, Nabi bisa melihat malaikat dalam rupa aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepada beliau. Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat An-Najm ayat 4-6

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ.عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ.ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ

Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa),

Keenam, wahyu yang disampaikan Allah kepada beliau, yaitu di atas lapisan-lapisan langit pada malam Mi'raj, berisi kewajiban sholat dan lain-lainnya. 

Ketujuh,  Allah berfirman secara langsung dengan Nabi tanpa menggunakan perantara, sebagaimana Allah berfirman dengan Musa bin Imran. Wahyu semacam ini pasti berlaku bagi Musa berdasarkan nash Al-Qur' an dan menurut penuturan beliau dalam hadits tentang Isra'. 

Kedelapan, sebagian pakar menambahi dengan tingkatan wahyu yang kedelapan, yaitu Allah berfirman langsung di hadapan beliau tanpa ada tabir. Ini termasuk masalah yang dipertentangkan orang-orang salaf maupun khalaf.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA