Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Di Tengah Ketegangan Beijing-Taipei, Delegasi Senat Prancis Tiba di Taiwan

Kamis 07 Oct 2021 09:24 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

CNA

CNA

Sekelompok senator Prancis tiba di Taipei untuk kunjungan lima hari.

Delegasi senator Prancis yang bertandang ke Taipei dipimpin oleh senator senior Alain Richard, yang akan melakukan pertemuan dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen serta jajaran pejabat ekonomi dan kesehatan. Alain Richard, mantan menteri pertahanan Prancis, sebelumnya sudah pernah mengunjungi Taiwan pada 2015 dan 2018, dalam posisinya sebagai Ketua Kelompok Persahabatan Prancis-Taiwan di Senat Prancis.

Duta Besar China untuk Prancis Lu Shaye, jauh sebelumnya sudah mengirim surat peringatan pada bulan Februari lalu, yang meminta Alain Richard membatalkan rencana kunjungan ke Taiwan. Kunjungan ini kemungkinan besar akan memicu teguran baru Beijing terhadap Paris.

Cina selama ini mengklaim Taiwan sebagai wilayah provinsinya dan oleh karena itu menentang setiap keterlibatan internasional di negara pulau itu, termasuk kunjungan pejabat pemerintahan asing. Cina juga secara agresif mengecam semua upaya hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Situasi 'paling suram' dalam empat dekade

Pesawat tempur Cina dari hari Jumat pekan lalu hingga Senin, menerobos wilayah udara Taiwan sebanyak 149 kali, untuk menegaskan kembali klaimnya. AS mengecam tindakan itu sebagai "berisiko" dan "mengancam stabilitas", sementara Cina menjawab bahwa AS yang melakukan tindakan provokatif dengan menjual senjata kepada Taiwan.

Menteri Taiwan untuk urusan Cina Daratan, Chiu Kuo mengatakan di hadapan anggota parlemen, situasi ketegangan antara kedua negara belum pernah sesuram ini selama empat dekade terakhir.

"Bagi militer (Taiwan), situasi saat ini adalah yang paling suram dalam lebih dari 40 tahun sejak saya bergabung dengan dinas," kata Chiu Kuo-cheng.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen memperingatkan dalam sebuah artikel yang diterbitkan hari Selasa (5/10) tentang "konsekuensi bencana" jika pulau itu jatuh ke tangan Cina. Taiwan selama ini hidup di bawah ancaman invasi terus-menerus oleh Cina, kata Tsai Ing-wen.

Tahun lalu, 380 jet tempur Cina memasuki wilayah udara dan masuk ke ke zona pertahanan Taiwan. Tahun ini, jumlah pelanggaran wilayah udara hingga Oktober ini total sudah melebihi 600 kasus.

Beijing tingkatkan tekanan kepada Presiden Taiwan

Presiden Cina Xi Jinping dalam sebuah surat kepada pemimpin oposisi utama Taiwan yang baru terpilih pekan lalu juga mengatakan, hubungan Beijing dengan Taipei saat ini sedang suram, namun perebutan kembali Taiwan "tak terhindarkan".

China dan Taiwan berpisah di tengah perang saudara pada tahun 1949. Saat ini, kedua negara memiliki hubungan perdagangan dan investasi yang luas, tetapi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.

Beijing telah meningkatkan tekanan militer, diplomatik dan ekonomi sejak terpilihnya Tsai In-wen tahun 2016. Presiden Taiwan itu memang menolak politik "satu Cina". Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Selasa, Tsai In-wen menulis, Taiwan akan "melakukan apa pun yang diperlukan" untuk menjaga dari ancaman tetapi pulau itu berharap untuk hidup berdampingan secara damai dengan China.

hp/as (ap, afp, rtr)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA