Kamis 07 Oct 2021 09:02 WIB

Pengembangan Bioavtur J2.4 Jadi Momentum Bagi Inovasi Negara

Dibandingkan komoditas lain, produksi kelapa sawit lebih efisien dan produksi tinggi.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolandha
Pekerja mengangkut dan menata tandan buah segar kelapa sawit saat panen di Desa Jalin, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (23/8). Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit yang menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar sawit dunia.
Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Pekerja mengangkut dan menata tandan buah segar kelapa sawit saat panen di Desa Jalin, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (23/8). Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit yang menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar sawit dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit yang menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar sawit dunia. Dibandingkan komoditas pesaing lainnya, produksi kelapa sawit lebih efisien dan produktivitas yang lebih tinggi dalam pemanfaatan lahan. 

Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit hanya membutuhkan lahan 0,3 hektare. Sedangkan rapeseed oil membutuhkan lahan seluas 1,3 hektare, sunflower oil seluas 1,5 hektare, dan soybean oil seluas 2,2 hektare.

“Pemerintah berkomitmen mendukung program B30 pada 2021 dengan target alokasi penyaluran sebesar 9,2 juta kiloliter. Hal ini bertujuan menjaga stabilisasi harga CPO. Dengan kebijakan tersebut, target 23 persen bauran energi yang berasal dari Energi Baru Terbarukan pada 2025 sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional akan dapat tercapai,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada acara Seremonial Keberhasilan Uji Terbang Dengan Bahan Bakar Campuran Bahan Bakar Bioavtur 2,4 persen (J2.4) yang dilakukan secara virtual, Rabu (6/10).

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan rendah karbon. Program B30 telah berkontribusi dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) untuk sekitar 23,3 juta ton karbondioksida (CO2) pada 2020. 

Program ini juga berdampak positif pada penghematan devisa negara dengan pengurangan impor solar sebesar kurang lebih 8 miliar dolar AS. Airlangga juga menyampaikan arahan dari Presiden Joko Widodo terkait keterbukaan dan kesiapan Indonesia mendukung investasi dan transfer teknologi termasuk investasi bagi transisi energi melalui pembangunan biofuel, industri baterai lithium, dan implementasi dari kendaraan listrik.

Keberhasilan uji terbang bioavtur ini telah memberikan kepercayaan tinggi terhadap kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya domestik, khususnya minyak sawit. Hal itu dimanfaatkan sebagai upaya membangun kemandirian energi nasional. 

Melalui terobosan ini diharapkan dapat berdampak pada pengurangan ketergantungan energi dari impor, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Memperhatikan potensi pasar Bioavtur J2.4 yang dapat mencapai sekitar Rp 1,1 triliun per tahun, inovasi ini perlu didukung dengan kebijakan fiskal, baik melalui kebijakan perpajakan maupun dana riset, dalam rangka peningkatan keekonomian Bioavtur J2.4 guna merealisasikan potensi ekonomi tersebut bagi pembangunan bangsa. 

Ke depannya, diharapkan agar Bioavtur J2.4 juga dapat diujiterbangkan pada pesawat-pesawat komersial. Dengan begitu, potensi pasar bahan bakar hasil inovasi anak bangsa ini dapat terus dikembangkan.

Upaya pemerintah dalam pengembangan J2.4, keberhasilan katalis merah putih, dan keberhasilan uji terbang J2.4, merupakan momentum yang perlu dikomunikasikan dan mendapat perhatian dari semua stakeholders terkait serta masyarakat luas.

“Kita patut berbangga pagi ini kita dapat menyaksikan keberhasilan anak bangsa yang dapat mewujudkan pembuatan bioavtur atau J2.4 yang juga telah diuji terbangkan dengan menggunakan pesawat CN235-220 milik PT Dirgantara Indonesia,” tegas Airlangga.

Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi peningkatan kontribusi biofuel bagi sektor transportasi udara, penguatan ketahanan energi nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Saya mengapresiasi kepada Kementerian ESDM dan seluruh pihak yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan acara ini, dan juga tim peneliti yang beranggotakan para tenaga ahli dari ITB, PT Pertamina, PT DI, PT GMF, Kementerian Perhubungan, serta didukung oleh BPDPKS. Kolaborasi antara Perguruan Tinggi, industri dan Pemerintah yang telah diimplementasikan dengan baik sehingga menjadi momentum bagi pengembangan riset dan inovasi di dalam negeri,” tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement