Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Pejuang Kesetaraan Desmond Tutu Berulang Tahun Ke-90

Kamis 07 Oct 2021 00:56 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Desmond Tutu

Desmond Tutu

Foto: AP/Frank Augstein
Desmond Tutu dikenal atas perjuangannya melawan sistem rasis.

REPUBLIKA.CO.ID, CAPETOWN -- Tokoh anti-apartheid di Afrika Selatan Uskup Desmond Tutu berulang tahun yang ke-90. Vandalisme terhadap mural pemenang hadiah Nobel itu memperlihatkan masih relevannya perjuangan Tutu terhadap kesetaraan.

Tokoh yang dianggap sebagai hati nurani Afrika Selatan itu merupakan ikon gerakan antisistem rasis pemerintahan kulit putih di negaranya. Sistem apartheid telah menindas masyarakat mayoritas kulit hitam dengan keji.

Setelah Afrika Selatan berhasil meraih demokrasi pada 1994, Tutu melanjutkan perjuangannya untuk menyuarakan rekonsiliasi, keadilan dan hak-hak masyarakat minoritas LGBT.

Bulan lalu muralnya di Cape Town dirusak dengan tulisan rasis. "(Vandalisme itu) menyedihkan dan menjijikan," kata ketua dewan yayasan Desmond and Leah Tutu Trust, Mamphela Ramphele, Rabu (6/10).

Ia mengatakan rakyat Afrika Selatan harus melanjutkan perjuangan Tutu pada keadilan rasial. "Rasisme adalah kutukan yang harus dihindari Afrika Selatan, warisan Uskup Tutu sangat besar, ia berjuang melawan rasisme dan berjuang untuk kemanusiaan untuk kita semua," tambah Ramphele.

Meskipun sudah lemah Tutu diperkirakan akan menghadiri kebakitan di Katedral St. George di Cape Town. Di sana uskup pertama kulit hitam Afrika Selatan menyampaikan khotbah mengkritik apartheid.

Ia menerima hadiah Nobel Perdamaian pada 1984 atas kampanye gerakan tanpa kekerasan dalam melawan penindasan masyarakat minoritas kulit putih. Setelah pensiun dari keuskupan pada tahun 1996, Tutu menjadi ketua Dewan Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran Afrika Selatan.

Lembaga itu menyelidikan pelanggaran hak asasi manusia selama era apartheid. Meski perjuangannya serius tapi Tutu kerap menggunakan humor saat tampil dihadapan publik. Terutama saat ia mendukung hak-hak LGBT dan pernikahan sesama jenis.

"Saya tidak menyembah Tuhan yang homophobik dan perasaan saya sangat dalam hal ini, saya akan menolak masuk ke surga yang homophobik, saya akan katakan 'maaf, saya akan lebih memilih ke tempat lain'," katanya pada tahun 2013 lalu.

Tutu mengatakan ia sangat 'bersemangat dalam kampanyenya membela (hak-hak LGBT) seperti saat berkampanye mengenai apartheid'. "Bagi saya ini di level yang sama," katanya.

Sejak 2010 ia sudah menarik diri dari kehidupan publik dan mengeluarkan pernyataan melalui yayasannya. Ia dirawat untuk mengobati kanker prostat dan beberapa kali masuk rumah sakit pada tahun 2015 dan 2016.

Ia juga pernah dioperasi untuk mengobati infeksi yang disebabkan pengobatan kanker sebelumnya. Dalam kebaktian Kamis ini pejuang anti-apartheid Alan Boesak akan menyampaikan khotbah.

Selain itu juga akan ada seminar daring mengenai hidup dan nilai-nilai Tutu. Dalai Lama, janda Nelson Mandela yakni Graca Machel, mantan perdana menteri Irlandia Mary Robinson dan advokat pemerintah Afrika Selatan Thuli Mandosela akan menyampaikan pidato.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA