Rabu 06 Oct 2021 18:44 WIB

Kantor Khamenei di Azerbaijan Ditutup karena Pandemi Covid

Salah satu tempat penyebaran virus Corona akhir-akhir ini adalah Masjid Huseyniye.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah
Virus corona (ilustrasi)
Foto: Pixabay
Virus corona (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BAKU -- Kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di ibukota Azerbaijan, Baku, telah ditutup, pada Selasa (5/10). Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan, Ehsan Zahidov mengatakan, kantor perwakilan Khamenei, Ali Akber Ocaqnejat, dan Masjid Huseyniye di Baku juga ditutup.

Zahidov mengatakan, penutupan itu merupakan bagian dari langkah-langkah untuk memerangi pandemi virus Corona. Zahidov mencatat bahwa ada juga tempat-tempat lain yang ditutup karena meningkatnya kasus Covid-19 di negara Azerbaijan.

Baca Juga

"Salah satu tempat penyebaran virus Corona akhir-akhir ini adalah Masjid Huseyniye. Saat ini, layanan epidemiologi mengambil tindakan di sana," ujar Zahidov, dilansir Anadolu Agency, Rabu (6/10).

Hubungan antara Iran dan Azerbaijan telah meningkat dalam beberapa waktu terakhir, setelah pembebasan Karabakh oleh pasukan Azerbaijan. Karabakh diduduki secara ilegal oleh pasukan Armenia selama hampir tiga dekade.

Namun bulan lalu, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengkritik truk trailer Iran secara ilegal di Karabakh. Sekitar 60 truk Iran memasuki wilayah Karabakh, Azerbaijan tanpa izin antara 11 Agustus dan 11 September tahun ini.

Aliyev juga mempertanyakan latihan militer yang dilakukan oleh Iran di dekat perbatasan Azerbaijan belum lama ini. Aliyev menggambarkan, langkah Iran tersebut tidak menghormati pemerintah Azerbaijan.

"Ini adalah peristiwa yang sangat mengejutkan. Setiap negara dapat melakukan latihan militer apa pun di wilayahnya sendiri. Itu adalah hak kedaulatan mereka. Tapi mengapa sekarang, dan mengapa di perbatasan kita?," ujar Aliyev, dilansir Anadolu Agency, Rabu (6/10).

"Mengapa latihan tidak diadakan ketika orang-orang Armenia berada di wilayah Jabrayil, Fizuli, dan Zangilan? Mengapa ini dilakukan setelah kami membebaskan tanah ini, setelah 30 tahun pendudukan?," kata Aliyev menambahkan.

Adapun ketegangan hubungan antara bekas Azerbaijan dan Armenia telah terjadi sejak tahun 1991, ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh. Wilayah Nagorno-Karabakh dan tujuh wilayah lainnya yang berdekatan diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan.

Pada 27 September tahun lalu, tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan. Serangan itu melanggar beberapa perjanjian gencatan senjata. Selama konflik 44 hari, Azerbaijan membebaskan beberapa kota, serta hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan selama hampir tiga dekade.

Pada 10 November 2020, kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia untuk mengakhiri pertempuran, dan membuat resolusi yang komprehensif. Kemudian pada 11 Januari, para pemimpin Rusia, Azerbaijan, dan Armenia menandatangani pakta untuk mengembangkan hubungan ekonomi dan infrastruktur bagi seluruh wilayah. Kesepakatan kni termasuk pembentukan kelompok kerja trilateral di Karabakh.

Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan bagi Azerbaijan dan kekalahan bagi Armenia. Sebelum gencatan senjata ini, sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan berada di bawah pendudukan ilegal selama hampir 30 tahun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement