Selasa 05 Oct 2021 19:42 WIB

Alasan Mengapa Dai Harus Tawadhu Menurut Imam Shamsi Ali

Tawadhu merupakan sikap yang harus dimiliki setiap dai

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali, menyatakan tawadhu merupakan sikap yang harus dimiliki setiap dai
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali, menyatakan tawadhu merupakan sikap yang harus dimiliki setiap dai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seorang Muslim yang memiliki ketawadhuan dalam menjalani hidup akan menemui keselamatan karena akan terhindar dari riya dan angkuh. Begitupun dalam berdakwah, ketawadhuan sangat penting dimiliki seorang dai

Presiden Nusantara Foundation, Ustadz  Muhammad Shamsi Ali, menjelaskan sikap dam karakter tawadhu penting dalam kerja-kerja dakwah. 

Baca Juga

Hal itu penting karena secara prinsip dakwah adalah ajakan menuju jalan Allah (ilaa sabiilillah). Dan tawadhu adalah salah satu nilai terpenting dalam hidup manusia. 

Maka menurut Ustadz Shamsi seseorang yang berdakwah namun tidak bernilai mulia atau tidak berkarakter, tidak tawadhu menjadi kontras pada dirinya.  

"Ketawadhuan dalam dakwah hendaknya bermula dari karakter sang da’i yang mengakui ketidak sempurnaan dan ragam kekurangan dalam berislam. Bahwa Islam itu dalam keyakinan kita sempurna. Tapi manusia yang berusaha mengikutinya, termasuk mereka yang di jalan dakwah ini (para da’i) jauh dari kesempurnaan," kata Ustadz Shamsi, beberapa waktu lalu, kepada Republika.   

Ustadz Shamsi yang juga imam di Masjid New York ini mengatakan kesadaran akan kekurangan dalam berislam  menjadi motivasi untuk bermujahadah lagi dalam menambah kualitas keislaman. 

Yang dengannya akan menjadi jalan untuk meningkatnya kualitas dakwah. Karena itu kualitas dakwah ada pada keteladanan dalam berislam itu sendiri. 

Sebaliknya menurut dia, bahaya dan malapetaka terbesar dalam dakwah ada pada karakter dai yang angkuh, merasa sempurna, merasa mampu, dan hebat. 

Dia menjelaskan tawadhu dalam dakwah juga ada pada bagaimana melihat obyek dakwah itu sendiri. Bahwa siapapun dan bagaimanapun keadaannya semua orang memiliki sisi kebaikan dalam dirinya. 

Bahwa pada manusia itu ada jati diri yang paling mendasar yang tidak akan berubah. Itulah fitrah manusia. 

"Maka dai yang tawadhu akan melihat semua orang dengan pandangan positif. Tidak menghakimi siapapun karena apapun dan bagaimanapun keadaannya. Tentu hal ini juga berarti bahwa dai yang tawadhu akan selalu memandang obyek dakwah dengan mata positif," katanya.    

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement