Selasa 05 Oct 2021 14:59 WIB

Malaysia Protes China Soal Pelanggaran Teritorial Maritim

Malaysia memprotes kapal China di perairan Laut China Selatan yang disengketakan

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Suasana Laut China selatan (ilustrasi)
Foto: Anadolu Agency
Suasana Laut China selatan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR – Pemerintah Malaysia memanggil duta besar China untuk negaranya, Ouyang Yujing, pada Senin (4/10) malam. Pemanggilan itu dilakukan untuk menyampaikan protes karena kapal-kapal China memasuki zona ekonomi maritim Negeri Jiran di Laut China Selatan (LCS) yang disengketakan.

“(Pemanggilan duta besar Ouyang Yujing) untuk menyampaikan posisi Malaysia dan memprotes keberadaan dan aktivitas kapal China, termasuk kapal survei, di Zona Ekonomi Eksklusif Malaysia,” kata Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

Malaysia menuding Beijing melanggar hukum domestik dan internasional dengan kehadiran kapal-kapalnya di lepas pantai negara bagian Sabah serta Sarawak. “Posisi dan tindakan konsisten Malaysia didasarkan pada hukum internasional, dalam membela kedaulatan serta hak berdaulat kami di perairan kami,” ujar Kementerian Luar Negeri Malaysia.

Sebelumnya, Malaysia sudah pernah memanggil duta besar China untuk negaranya untuk memprotes aktivitas kapal-kapal Beijing di perairannya di LCS. Pada Juni lalu, Malaysia mengerahkan jet tempur untuk mencegat 16 pesawat militer China yang mucul dari Kalimantan di atas LCS.

Kala itu, Malaysia menuduh China melanggar kedaulatannya. Sementara Beijing mengklaim penerbangan itu merupakan pelatihan rutin. LCS merupakan wilayah perairan strategis yang hampir seluruh bagiannya diklaim China sebagai bagian dari teritorialnya. Namun klaim tersebut tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif Vietnam, Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Filipina.

Dalam perselisihan klaim di LCS, Amerika Serikat (AS) menaruh dukungan kepada negara-negara Asia Tenggara yang bersengketa dengan China. Washington rutin melakukan operasi kebebasan navigasi di wilayah perairan tersebut. Beijing memandang tindakan tersebut sebagai provokasi terbuka terhadapnya.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement