Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Kans Putra Qaddafi Jadi Presiden Kuat, Maju Pilpres Libya?

Selasa 05 Oct 2021 05:50 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Putra Qaddafi punya peluang sangat besar terpilih jadi Presiden Libya. Saif Al Islam Qaddafi

Putra Qaddafi punya peluang sangat besar terpilih jadi Presiden Libya. Saif Al Islam Qaddafi

Foto: AP
Putra Qaddafi punya peluang sangat besar terpilih jadi Presiden Libya

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI – Putra mendiang Muammar Gaddafi, Saif Al Islam Qaddafi, dilaporkan akan segera berbicara kepada rakyat Libya dalam pidato untuk mengumumkan posisinya pada pemilihan 24 Desember mendatang. 

Namun belum diketahui pasti apakah ia benar-benar mempertimbangkan untuk mencalonkan diri sebagai presiden, atau apakah hanya mendukung kandidat dalam pemilihan parlemen. Namun, kembalinya dia ke politik, apakah dimahkotai dengan kesuksesan atau menemui kegagalan dalam pemilihan, akan menjadi pencapaian bagi Saif Al Islam, yang telah bertahun-tahun menjadi penerus ayahnya yang diharapkan. 

Baca Juga

Sejak jatuhnya rezim ayahnya sepuluh tahun yang lalu, dia telah dikejar, dipenjara, atau benar-benar terputus dari kehidupan publik.

Saif Al Islam, dilansir dari laman Asharq al-Awsat, sebenarnya bukan satu-satunya kandidat untuk menggantikan ayahnya. Tetapi banyak peran yang dia ambil selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa dia adalah kandidat pertama dan favorit di antara putra-putra Muammar Qaddafi. 

Dia memainkan peran kunci pada 1990-an dalam menyelesaikan masalah luar negeri Libya, yang berkaitan dengan tindakan yang dikaitkan dengan rezim ayahnya, seperti pemboman pesawat sipil, dan banyak lainnya.

Saif Al Islam tidak hanya berurusan dengan urusan luar negeri, tetapi juga memainkan peran kunci dalam meningkatkan citra rezim ayahnya di dalam negeri dengan meluncurkan proyek Libya of Tomorrow, dan memulai rekonsiliasi dengan Islamis, penentang keras ayahnya. 

Karena itu, Saif Al Islam diterima di tingkat internal dan eksternal untuk suksesi kolonel, setiap kali kolonel memilih untuk menjauh dari kekuasaan. 

Baca juga : Penjelasan Ketum MUI Soal Hukum Ibadah dan Muamalah

Tapi pemberontakan 17 Februari 2011 datang untuk menghancurkan, tidak hanya proyek suksesi, tetapi seluruh otoritas Libya. Kepala rezim dan putranya, Mutassim, terbunuh setelah mereka ditangkap di kampung halaman mereka di Sirte pada Oktober 2011. 

Khamis Qaddafi, putra Muammar Gaddafi lainnya, yang memimpin pertempuran sengit di barat negara itu, juga meninggal dalam serangan udara bersama kerabatnya, putra mantan kepala intelijen Abdullah Senussi, di dekat kota Tarhuna.

Muammar Qaddafi sebelumnya kehilangan putranya, Saif Al Arab, yang tidak terlibat dalam politik, dalam serangan udara yang menargetkan rumah keluarga di Tripoli. 

Saif Al Islam sendiri hampir menemui nasib saudara-saudaranya. Dia secara ajaib selamat dari serangan yang menargetkan konvoi di Bani Walid, selatan Tripoli, di mana dia kehilangan jari di tangan kanannya. Dia ditangkap Brigade Zintan pada November 2011, setelah dia melarikan diri ke Ubari di selatan negara itu. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA