Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Mencari Sumber Parasetamol di Teluk Jakarta

Senin 04 Oct 2021 19:20 WIB

Red: Indira Rezkisari

Warga di Pantai Ancol, Jakarta. Konsentrasi parasetamol yang cukup tinggi ditemukan sejumlah wilayah Laut Jakarta. Konsentrasi tertinggi di Muara Angke (610 ng/L) dan muara sungai Ciliwung Ancol (420 ng/L).

Warga di Pantai Ancol, Jakarta. Konsentrasi parasetamol yang cukup tinggi ditemukan sejumlah wilayah Laut Jakarta. Konsentrasi tertinggi di Muara Angke (610 ng/L) dan muara sungai Ciliwung Ancol (420 ng/L).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Besar kemungkinan sumber cemaran parasetamol di Teluk Jakarta berasal dari daratan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Zainur Mahsir Ramadhan, Antara

Tercemarnya laut Jakarta sebenarnya bukan berita baru. Laut Jakarta yang tercemar parasetamol alias obat yang digunakan untuk menekan sakit atau penurun panas namun baru kali ini didengar publik. 

Peneliti Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Zainal Arifin, menjelaskan hasil studi pendahuluan soal kualitas air di beberapa situs terdominasi limbah buangan yang membuat kabar sejumlah wilayah Teluk Jakarta tercemar parasetamol mencuat. Menurut dia, di beberapa lokasi Teluk Jakarta, seperti Angke, Ancol, Tanjung Priok, dan Cilincing serta satu lokasi di pantai utara Jawa Tengah yakni Pantai Eretan, terdapat parameter kontaminasi air.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa parameter nutrisi seperti Amonia, Nitrat, dan total Fosfat, melebihi batas Baku Mutu Air Laut Indonesia," ujar Zainal di Jakarta, Senin (4/10).

Khusus parasetamol yang ramai di Jakarta, kata dia, terdapat di situs Muara Angke (610 ng/L) dan muara sungai Ciliwung Ancol (420 ng/L). Menurut Zainal, konsentrasi parasetamol yang cukup tinggi, meningkatkan kekhawatiran mengenai risiko lingkungan dengan paparan jangka panjang terhadap organisme laut di Teluk Jakarta.

“Hasil penelitian awal yang kami lakukan ingin mengetahui apakah ada sisa parasetamol yang terbuang ke sistem perairan laut,” papar dia.

Meski dilakukan di dua lokasi berbeda, hasil kandungan di Teluk Jakarta dan Teluk Eretan, kata dia, sangat berbeda jauh. Lanjut Zainal, konsentrasi parasetamol tertinggi ditemukan di pesisir Teluk Jakarta, sedangkan di Teluk Eretan tidak terdeteksi.

Zainal menjelaskan, secara teori sumber sisa parasetamol yang ada di perairan teluk Jakarta dapat berasal dari tiga sumber. Yaitu ekresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan seperti rumah sakit, dan industri farmasi. “Dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabodetabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan di perairan," ungkapnya.

Sedangkan sumber potensi rumah sakit dan industri farmasi, menurut Zainal, dapat diakibatkan sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal. Sehingga, sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai.

Ia menambahkan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengungkap sumber polutan parasetamol di Teluk Jakarta. Zainal menuturkan riset yang dilakukannya bersama Wulan Koagouw, serta George WJ Olivier dan Corina Ciocan dari Universitas Brighton di Inggris, baru menunjukkan ada konsentrasi parasetamol relatif tinggi di muara sungai Angke dan muara sungai Ciliwung Ancol di Teluk Jakarta. Mereka belum sampai meneliti terkait sumber-sumber pencemaran parasetamol yang masuk ke dua lokasi perairan itu.

Menurut Zainal, tentu riset untuk mengungkap bagaimana pencemaran di sepanjang pesisir utara Jawa dan asal sumber pencemaran, akan menjadi topik menarik untuk dieksplor lebih lanjut oleh para peneliti dan pihak terkait lain. Topik riset lain yang menarik untuk diangkat dapat berkaitan dengan tingkat pencemaran polutan parasetamol atau limbah obat-obatan atau farmasi di daerah perkotaan jika dibandingkan dengan daerah pertanian.

"Ada penelitian saya baca bahwa konsentrasi sejenis parasetamol di daerah Brebes, Pekalongan memang konsentrasinya tidak setinggi dengan yang di pantai Jakarta. Kita bisa paham karena daerah pertanian itu tidak ada industri," ujarnya.

Sedangkan terkait dampak parasetamol untuk lingkungan, dikatakan peneliti BRIN lainnya, Wulan Koagouw, belum diketahui secara pasti. Menurutnya, perlu riset lebih jauh untuk hal tersebut.

“Kami belum tahu, karena memang riset kami baru pada tahap awal. Namun jika konsentrasinya selalu tinggi dalam jangka panjang, hal ini menjadi kekhawatiran kita karena memiliki potensi yang buruk bagi hewan-hewan laut," jelas Wulan.

Wulan menjelaskan, studi yang dilakukan pihaknya di Teluk Jakarta, tidak hanya meneliti kandungan parasetamol. Melainkan, juga obat-obatan yang termasuk dalam contaminant of emerging.

Menurut Wulan, sebagai obat yang digunakan mayoritas orang tanpa perlu resep dokter, parasetamol tentu akan mudah didapat di Jakarta dan Indonesia. Dengan tingkat penggunaan yang masif di Jakarta dan Indonesia, kata dia, hal itu akan menjadi dasar pengaruh pada pendeteksian parasetamol secara umum, termasuk yang diteliti dalam studi berjudul "Long-term exposure of marine mussels to paracetamol dalam jurnal Environmental Science & Marine Pollution pada 2021."

"Jadi saya ingin tahu di Indonesia apakah terdeteksi parasetamol. Sebenarnya simpel sekali (studi) pada saat itu. Saya hanya penasaran ingin tahu apakah parasetamol itu terdeteksi atau tidak, ternyata terdeteksi," kata Wulan.

Wulan menampik, jika awal mula penelitian yang dilakukannya adalah untuk meneliti parasetamol. Sebaliknya, dia menilai penelitian awal dilakukan untuk meneliti obat lainnya yang belum digunakan di Indonesia, meski dia belum mengetahui lebih jauh apakah tujuan utamanya telah tersedia di Indonesia atau belum.

"Tetapi kalau misalnya saya punya pendanaan yang besar, punya waktu yang lama, saya punya resource-nya, tentu saja saya akan mau untuk meneliti kemungkinan selain parasetamol," tutur Wulan.

Lanjut Wulan, penelitian sebelumnya memang masih berdasarkan dugaan. Dia menegaskan, pihaknya juga belum memiliki kualifikasi untuk meneliti lebih jauh mengenai awal mula temuan tersebut.

"Sekali lagi itu bukan data kami. Jadi saya klarifikasi di sini, kami belum punya data untuk menunjukkan sumber dari pencemaran tersebut," jelas dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA