Senin 04 Oct 2021 18:50 WIB

Aset Perbankan Jambi Capai Rp 55,99 Triliun

Pertumbuhan aset didorong pertumbuhan aset bank pemerintah.

Logo Bank Indonesia. KPw Bank Indonesia Jambi menyebut, aset perbankan di Jambi mencapai Rp 55,99 triliun.
Foto: Antara
Logo Bank Indonesia. KPw Bank Indonesia Jambi menyebut, aset perbankan di Jambi mencapai Rp 55,99 triliun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI -- Aset perbankan di Provinsi Jambi pada kuartal II 2021 tercatat sebesar Rp 55,99 triliun atau tumbuh sebesar 16,85 persen (yoy). Nilai itu meningkat dibandingkan kuartal I 2021 yang tumbuh 8,52 persen (yoy).

Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Jambi Suti Masniari Nasution mengatakan, peningkatan pertumbuhan aset perbankan disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan aset kelompok bank pemerintah. "Aset bank pemerintah tumbuh 21,41 persen (yoy) lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 10,47 persen (yoy)," kata Suti.

Baca Juga

Sementara berdasarkan kegiatan usaha, pertumbuhan aset perbankan dipengaruhi oleh tumbuhnya aset perbankan konvensional yang mampu tumbuh sebesar 16,58 persen (yoy) lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 7,48 persen (yoy). Berdasarkan pangsa asetnya, kelompok bank dengan aset terbesar adalah bank pemerintah sebesar Rp 42,09 triliun, diikuti bank swasta Rp 13,90 triliun.

Sementara, pangsa aset bank menurut kegiatan masih didominasi oleh bank konvensional dengan aset sebesar Rp 51,31 triliun dan bank syariah dengan aset sebesar Rp 4,67 triliun. Dari sisi pendapatan, return on assets (ROA) perbankan di Provinsi Jambi yang menggambarkan kemampuan perbankan untuk mencetak laba pada kuartal II tercatat sebesar 4 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2021 sebesar 3,39 persen.

"Perbaikan kinerja perbankan dalam menghasilkan laba diikuti dengan penurunan rasio BOPO atau biaya operasional pendapatan operasional yang tercatat lebih baik dari 64,77 persen (yoy) pada kuartal I 2021 menjadi 57,74 persen (yoy)," ujar Suti.

Hal itu mencerminkan pendapatan operasional turun lebih dalam dibandingkan biaya operasional yang diduga berkaitan dengan perlambatan pertumbuhan kredit.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement