Saturday, 29 Rabiul Akhir 1443 / 04 December 2021

Saturday, 29 Rabiul Akhir 1443 / 04 December 2021

Yusril Enggan Ladeni Demokrat Kubu AHY di Ruang Publik

Senin 04 Oct 2021 12:24 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Mas Alamil Huda

Yusril Ihza Mahendra

Yusril Ihza Mahendra

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Yusril menanti keputusan Mahkamah Agung soal perkara yang diajukannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengacara Demokrat kubu Moeldoko, Yusril Ihza Mahendra, enggan menanggapi pernyataan Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Ia memilih fokus dengan tugasnya usai dipercaya empat kader Demokrat yang dipecat untuk mengajukan uji materi Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat tahun 2020 ke Mahkamah Agung (MA).

Yusril menyindir keanehan konferensi pers yang diadakan Demokrat kubu AHY pada Ahad (3/10). Ia menganggap tema konferensi pers itu terkesan mengada-ngada.

"Saya nggak mau pusing dengan konferensi pers Partai Demokrat. Apalagi judulnya 'Demokrat Berkoalisi dengan Rakyat, Moeldoko Berkoalisi dengan Yusril'. Saya nggak mau pusing dengan koalisi-koalisian yang terkesan aneh tersebut," kata Yusril kepada Republika.co.id, Senin (4/10).

Yusril memilih tak membela diri atas tudingan-tudingan yang dilontarkan Demokrat kubu AHY. Ia merasa tugasnya saat ini bukan meladeni mereka di ruang publik.

"Saya tetap fokus pada pekerjaan saya sebagai advokat yang menangani perkara yang telah didaftarkan di Mahkamah Agung. Kalau Partai Demokrat mau sibuk dengan gunjingan-gunjingan politik tiap hari, itu urusan mereka," ujar Yusril.

Yusril mengaku saat ini tengah menanti keputusan Mahkamah Agung soal perkara yang diajukannya. "Saya fokus kepada persoalan hukum, yang tinggal menunggu saja kapan Mahkamah Agung akan memutus perkara itu," ucap Yusril.

Baca juga : Fraksi PDIP DPRD DKI Kritik Surat Anies ke Bloomberg

Sebelumnya, Juru bicara Partai Demokrat kubu AHY Herzaky Mahendra Putra menyatakan, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko punya dua pilihan terkait polemik Partai Demokrat. Herzaky menyatakan, pilihan pertama, Moeldoko menghentikan semua ambisinya untuk mengambil alih Partai Demokrat.

Pilihan kedua, jika Moeldoko melanjutkan ambisinya maka Demokrat kubu AHY mengancamnya bersiap untuk kehilangan uangnya, nama baik, dan kehormatannya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA