Jumat 01 Oct 2021 14:18 WIB

SMK 13 Jakbar Perketat Prokes Pada Pelaksanaan PTM

Sekolah sudah siapkan "thermo gun", masker hingga wastafel di setiap sisi.

Pelajar bersiap menaiki bus sekolah usai mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di SMK Negeri 15 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (3/9). Dinas Perhubungan DKI Jakarta melalui Unit Pengelola (UP) Angkutan Sekolah mengoperasikan sebanyak 70 bus sekolah untuk membantu sarana transportasi gratis bagi pelajar yang mengikuti PTM secara terbatas yang melayanai 20 rute reguler dan 13 rute zonasi. Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pelajar bersiap menaiki bus sekolah usai mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di SMK Negeri 15 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (3/9). Dinas Perhubungan DKI Jakarta melalui Unit Pengelola (UP) Angkutan Sekolah mengoperasikan sebanyak 70 bus sekolah untuk membantu sarana transportasi gratis bagi pelajar yang mengikuti PTM secara terbatas yang melayanai 20 rute reguler dan 13 rute zonasi. Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 13 Jakarta Barat memperketat penerapan protokol kesehatan (prokes) pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) hari ke dua.

Pihak sekolah memperlihatkan penambahan sarana dan prasarana kesehatan kepada awak media yang berkunjung ke sekolah tersebut. "Kita sudah siapkan "thermo gun", masker hingga wastafel di setiap sisi sekolah," kata Wakil Kepala Sekolah SMK 13 Subarno saat ditemui di kantornya, Jumat (1/10).

Untuk diketahui, SMK 13 menjadi salah satu sekolah pertama yang menjalani PTM tahap dua di Jakarta Barat. Dari pantauan di lokasi, terdapat dua "thermo gun" yang disiapkan di pintu utama sekolah.

Dua "thermo gun" itu, kata Subarno, disiapkan agar siswa dan guru tidak berkumpul saat mengecek suhu tubuh. Setelah itu, siswa langsung diarahkan ke masing-masing sekolah.

Tercatat ada 20 ruangan kelas yang dipakai untuk kelas yang digunakan pihak sekolah saat PTM Jumat ini. Per kelasnya rata-rata hanya diisi oleh 18 murid. Hal tersebut sesuai dengan peraturan penerapan maksimal 50 persen jumlah siswa di kelas.

"Ada 20 ruangan untuk jumlah siswa di kelas 12. Jadi sekitar ada sekitar 356 siswa yang hadir," kata Subarno.

Di dalam kelas, para siswa juga diwajibkan berjaga jarak dan menggunakan masker selama pembelajaran tatap muka berlangsung. Menurut Subarno, seluruh aktivitas di dalam sekolah selalu terpantau demi memastikan sesuai dengan prokes.

Maka dari itu, pihaknya membentuk tim siaga Covid-19 untuk mengantisipasi adanya pelanggaran prokes di sekolah. "Kita bentuk tim siaga Covid-19. Tugasnya adalah untuk memantau jangan sampe ada siswa berkerumun, apalagi misalnya saat istirahat kan itu kesempatan untuk ketemu teman," kata Subarno.

Baca juga : PTM Terbatas, Siapa Takut?

Setelah selesai PTM pun, pihaknya juga masih melakukan pemantauan agar siswa tidak berkerumun di luar sekolah. Hal tersebut dilakukan dengan cara berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja kelurahan dan Kecamatan agar membubarkan siswanya yang berkerumun.

Subarno berharap upaya ini dapat melindungi siswa dan murid dari paparan Covid-19 selama PTM berlangsung. Dia juga mengimbau kepada orang tua murid agar tetap mengingat peserta didik untuk menerapkan protokol kesehatan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement