Jumat 01 Oct 2021 10:02 WIB

Menlu Israel Buka Kedutaan Besar Di Bahrain

Menlu Israel lakukan kunjungan tingkat tinggi pertama sejak nomalisasi dengan Bahrain

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
Menlu Israel Yair Lapid. Ilustrasi.
Foto: AP/Sebastian Scheiner
Menlu Israel Yair Lapid. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Israel Yair Lapid terbang ke Bahrain. Ini adalah kunjungan tingkat tinggi pertama Israel ke negara Teluk tersebut sejak kedua negara membentuk hubungan resmi tahun lalu.

Lapid mendarat di bandara internasional Bahrain dengan pesawat maskapai Israir yang moncongnya dilukis pohon zaitun. Dalam kunjungan itu, ia bertemu dengan Raja Hamad bin Isa Al Khalifa dan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Salman bin Hamad Al Khalifa.

Baca Juga

Lapid juga menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Bahrain. Ia akan membuat Kedutaan Besar Israel di Manama.

"Kepemimpinan dan inspirasi Yang Mulia telah membawa kerja sama sejati dan pertemuan kami sejalan dengan majunya hubungan kami," kata Lapid di Twitter usai bertemu Raja Hamad, Kamis (30/9).

Bahrain dan negara tetangganya di Teluk yakni Uni Emirat Arab telah menormalisasi hubungan dengan Israel tahun lalu dalam kesepakatan yang ditengahi pemerintahan mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kesepakatan yang dinamakan Perjanjian Abraham tersebut didasarkan pada kepentingan bisnis dan kekhawatiran yang sama dengan pengaruh Iran di kawasan. Sudan dan Maroko mengambil langkah yang sama.

"Kami melihat Bahrain sebagai mitra penting, di tingkat bilateral tapi juga menjembatani kerja sama dengan negara-negara lain di kawasan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel.

Palestina mengecam perjanjian yang menurut mereka mengkhianati posisi negara-negara Arab sebelumnya. Yakni hanya akan berdamai dengan Israel bila Tel Aviv menyerahkan tanah yang mereka duduki.

Di Gaza, kelompok Hamas mengkritik Bahrain karena menjamu Lapid yang pulang ke Israel pada Kamis sore. Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan kunjungan ini mewakili 'dukungan' apa yang ia gambarkan sebagai 'kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina dan tanah suci mereka'.

Oposisi-oposisi Bahrain juga mengkritik kesepakatan dengan Israel tersebut. Tidak hanya beberapa tokoh yang berada di pengasingan tapi juga ada yang oposisi di dalam negeri yang keberatan dengan kesepakatan itu.  

Terjadi beberapa unjuk rasa sporadis di Bahrain sejak perjanjian dengan Israel ditandatangani. Di media sosial, aktivis-aktivis Bahrain menyebarkan foto-foto yang menunjukkan demonstrasi kelompok kecil.

Kerajaan Bahrain yang bermazhab Sunni adalah tuan rumah dari Armada Kelima Angkatan Laut AS. Mereka menuduh Iran sebagai dalam kerusuhan di Bahrain. Teheran membantah tuduhan tersebut.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement